Jumat, 31 Maret 2017

PELANTIKAN ANGGOTA BARU SISPALA OASIS DIKDACALAM 9 ANGKATAN 8


panitia DIKDACALAM 9 ANGKATAN 8...telah terpilih siswa smk negeri 2 padang menjadi anggota siswa pencita alam (SISPALA) yang bernamakan sispala oasis...dan materi yang telah di laksanakan di sekolah dan di seketariat MPALH(mahasiswa pencinta alam dan lingkungan hidup) UNP dan puncaknya pelantikan anggota muda sispala oasis yang diadakan di GOA BABA BATU GADANG ,INDARUNG...Daerah kota padang sumbar.


Rasa syukur untuk Tuhan yang maha esa
dan terima kasih kepada
SMK negeri 2 padang
MPALH UNP
Anggota luar biasa sispala oasis
sistekpala alnino
stekpala lubuk basung
MAPALA Pagaruyuang







18 anggota muda sispala oasis


AYU ANDIRA
N A G : 16.08.099



ABDUL MUHAMMAD I.
N A G : 16.08.0100



AISYAH RANI SAFITRI 
N A G : 16.08.101


DWI ALVATIKA SARI 
N A G : 16.08.102


FINA PUTRI DESMA
N A G : 16.08.103


GALUH RASUNA A
N A G : 16.08.104


M. RIZKY PUTRA
N A G : 16.08.105


MEILA QALDI CHINTIA
N A G : 16.08.106


MUTIA TRI GUSNI.
N A G : 16.08.107


MAILINDA PUTRI W
N A G : 16.08.108


NURHASANAH
N A G : 16.08.109


PUTRI FEBLY ANGGRAINI
N A G : 16.08.110


SAYUTI ANSARA
N A G : 16.08.111


SYOFANI RUSKA
N A G : 16.08.112


OSCAR RANDA
N A G : 16.08.113


TITI TIRTANINGRUM
N A G : 16.08.114


TAMARA
N A G : 16.08.115


ANNISA FAUZIYAH
N A G : 16.08.116



SELAMAT DATANG KEPADA ANGGOTA MUDA YANG TERPILIH 
MARI SATUKAN HATI DALAM KEKOMPAKAN UNTUK MENGHARUMKAN NAMA OASIS 

Jumat, 30 September 2016

Pelantikan anggota baru sispala oasis DIKDACALAM 8 angkatan 7

panitia DIKDACALAM 8 ANGKATAN 7...telah terpilih siswa smk negeri 2 padang menjadi anggota siswa pencita alam (SISPALA) yang bernamakan sispala oasis...dan materi yang telah di laksanakan di sekolah dan di seketariat MPALH(mahasiswa pencinta alam dan lingkungan hidup) UNP dan puncaknya pelantikan anggota muda sispala oasis yang diadakan di GOA BABA BATU GADANG ,INDARUNG...Daerah kota padang sumbar.

Rasa syukur untuk Tuhan yang maha esa
dan terima kasih kepada
SMK negeri 2 padang
MPALH UNP
Anggota luar biasa sispala oasis
sistekpala alnino
stekpala lubuk basung 







22 anggota muda sispala oasis 


TULSI YASMI
N A G : 15.07.077

ANISSA LORENZA
N A G : 15.07.078


YOGA NANDA S. 
N A G : 15.07.079


YUZA ALFARIZI 
N A G : 15.07.080


FAJRI MAHDI
N A G : 15.07.081


RAHMAT ARIESTU
N A G : 15.07.082


ISRUL IDAMI
N A G : 15.07.83


YOSE ARMADHANI
N A G : 15.07.084


JIHAN FAHIRA A.
N A G : 15.07.085

ANISSA PUTRI AMALIA
N A G : 15.07.086


ALFI ALDI AGUS SYAHPUTRA
N A G : 15.07.087


SUCI MELINDA
N A G : 15.07.088


SONIA
N A G : 15.07.089


NOVRI SANDI
N A G : 15.07.090


SHINTA SRI WULAN
N A G : 15.07.091


RYAN HERIKSAN
N A G : 15.07.092


LIDYA NURCAHYA S.W
N A G : 15.07.093


HIDAYAT EMNAS
N A G : 15.07.094


VANESSA MUSTIKA
N A G : 15.07.095



IRMA SRI KURNIA
N A G : 15.07.096


SYERLI KURNIA P.
N A G : 15.07.097


SUCINI HALIMATUSSADIYAH
N A G : 15.07.098



SELAMAT KEPADA ANGGOTA MUDA YANG TERPILIH 
MARI SATUKAN HATI DALAM KEKOMPAKAN UNTUK MENGHARUMKAN NAMA OASIS 

Kamis, 11 Agustus 2016

Empat mahasiswi pecinta alam dari UGM berangkat taklukan Himalaya


Sudah 2 tahun lamanya mereka berproses melahap menu latihan fisik dan pembekalan pengetahuan guna suksesnya kegiatan UGM International Expedition III “Peak of The Ancestor” (UIE III) yang akan dilaksanakan di Gunung Stok Kangri India dengan ketinggian 6153 mdpl. Tentu bukan hal yang mudah menjalani proses yang panjang, tentu sangat melelahkan. Selama di India, tim UIE III tidak hanya sekedar mencapai puncak saja. Ada beberapa misi yang akan dibawa oleh para atlet selama disana. Yang pertama mereka akan megibarkan bendera Merah Putih di salah satu atap Himalaya tersebut bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Selain itu, para atlet akan menjadi duta Indonesia untuk memperkenalkan budaya dan wisata kepada khalayak India melalui kunjungan ke salah satu universitas di kota Delhi untuk mempresentasikan itu semua. Tidak hanya itu, besar harapan tim UIE III sepulang dari negeri bharata tersebut maka akan terjalin hubungan persaudaraan antara mahasiswa penggiat alam dari UGM dengan para penggiat alam dari India.

Sumber: https://www.facebook.com/UGMYogyakarta/posts/10154236790061223

Selasa, 26 Juli 2016

MEMAKNAI PENDIDIKAN DASAR CINTA ALAM (DIKDACALAM)

Makna Dibalik DIKLATSAR PECINTA ALAM

DIKLATSAR PECINTA ALAM
DI PERSIMPANGAN ANTARA PENDIDIKAN SPORTIFITAS DAN RELIGIUSITAS
Oleh : Rinayanti Ln

        Pendidikan baik secara formal di sekolah maupun secara informal di keluarga dan secara non formal di masyarakat, dilaksanakan untuk mencapai maksud agar setiap anak didik sebagai warga masyarakat Indonesia menjadi manusia yang utuh.
Pendidikan tidak hanya berarti menyampaikan pengetahuan, tetapi juga merekomendasikan nilai-nilai yang benar, baik, indah dan transedental (Sauri S ,2004:41)
        Pendidikan sebagai interaksi edukatif, diantaranya memerlukan persyaratan-persyaratan tertentu seperti dikemukakan oleh Rohani A dan Ahmadi A, (1995:97-98), yakni sebagai berikut:
1. ada tujuan yang akan dicapai;
2. ada bahan yang mengisi proses;
3. ada guru/instruktur yang melaksanakan;
4. ada peserta didik yang aktif mengalami;
5. ada metode tertentu untuk mencapai tujuan.
        Untuk menjadi warga negara yang baik, banyak wadah organisasi yang membina dan membekali para peserta didik agar kelak memiliki sikap, wawasan dan berprilaku yang baik. Salah satu wadah pembinaan yang dipersiapkan untuk mendidik karakter, kecakapan, menumbuhkan nilai kecintaan kepada lingkungan, menimbulkan kesadaran akan eksistensi peserta didik sebagai makhluk dari Khalik-nya dan memiliki kesediaan dan pelayanan terhadap orang lain adalah Himpunan Pecinta Alam.

A. Organisasi Pecinta Alam
         Keberadaan organisasi pecinta alam di masyarakat luas maupun di lingkungan dunia pendidikan formal pada awalnya sering diharapkan menjadi wadah untuk menempa diri pada lingkungan alam bebas. Sehingga organisasi pecinta alam di dalam melaksanakan kegiatannya sering disebut dengan olah raga alam bebas. Berbagai program kegiatan akan dialami oleh calon anggota, sebelum mereka berhak mendapat keanggotaan organisasi pecinta alam tertentu, di mana pada akhirnya diharapkan dapat memunculkan generasi yang tangguh sekaligus mencintai kelestarian alam.
        Dalam perkembangannya aktivitas organisasi pecinta alam secara kwantitas semakin meningkat dan cukup menggembirakan, namun secara kwalitas perlu pembinaan yang lebih baik dan terarah. Meskipun mencintai alam semula bersifat hobi semata, namun dengan tumbuhnya organisasi pecinta alam yang memberi wadah aktivitas yang terprogram kegiatan, di lapangan maupun kegiatan-kegiatan yang lain dapat meningkatkan prestasi maupun profesionalisme.
         Kegiatan himpunan pecinta alam merupakan bagian dari kegiatan ekstrakurikuler. Adapun tentang definisi ekstrakurikuler berikut ini dikemukakan oleh John M. Echol dan Hasan Sadily (9:1979), bahwa kegiatan dapat diartikan sebagai salah satu kesibukan. Berdasarkan pengertian tersebut, kegiatan dapat diartikan pula sebagai suatu partisipasi atau suatu keterlibatan seseorang. Sedangkan pengertian ekstrakurikuler menurut Indra Djati Sidi (1:1992) adalah kegiatan ekstra atau tambahan (tentu tidak wajib) yang dilakukan manusia di luar jadwal aktivitas kurikuler yang wajib seperti kuliah, praktikum, seminar dan berbagainya.
Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan siswa atau mahasiswanya di luar kampus yang bertujuan agar siswa/mahasiswa dapat memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan mendorong pembinaan sikap, nilai dan penerapan pengetahuan dan kemampuan yang lebih dipelajari dari berbagai mata kuliah dalam kurikulum baik program ini maupun non-inti.
         Selanjutnya Djati Sidi, Indra (2:1992) mengemukakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah suatu wadah serta proses kerja sama sejumlah mahasiswa yang terlibat dan terikat dalam hubungan formal dalam rangkaian hierarki untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ekstrakurikuler memberikan pelatihan bagi mahasiswa tentang kepemimpinan, berorganisasi, kemampuan mengelola, sosialisasi yang kurang atau tidak terdapat dalam kegiatan kurikuler. Selain itu kegiatan ekstrakurikuler memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas spektrum wawasan dalam berbagai hal yang merupakan salah satu pernyataan agar seseorang dapat lebih kreatif dan inovatif.
Menurut Sumaatmadja, Nursid (54: ), tentang wadah kegiatan yang bersifat ekstrakurikuler adalah sebagai berikut :
Gerakan Pramuka dan Himpunan Pecinta Alam, yang secara khusus memiliki program dan pembina yang berhubungan dengan pendidikan lingkungan. Hanya yang perlu ditekankan di sini yaitu bahwa pembinaan sikap mental yang luhur terhadap kesadaran ruang, kesadaran ekologi, dan kesadaran lingkungan harus secara sungguh-sungguh tertanam disini.

        Secara tersirat dikemukakan bahwa sikap mental yang luhur merupakan tujuan utama pembinaan generasi muda dalam kegiatan himpunan pecinta alam. Untuk itu dalam pelaksanaan kegiatannya perlu dirancang suatu program yang terintegrasi meliputi aspek mental, fisik, materil dan spiritual. Langkah awal Himpunan Pecinta Alam dalam upaya mencapai tujuan tersebut adalah Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR), yang harus dijalankan oleh calon anggota, untuk meraih predikat anggota dan selanjutnya berkiprah sebagai anggota dan menjalankan status dan perannya sebagai anggota pecinta alam.
Organisasi pecinta alam dalam melaksanakan kegiatannya termasuk ke dalam kategori olah raga alam bebas, di mana olah raga alam bebas ini memiliki beberapa aspek yang harus terpenuhi, yakni aspek cinta alam, aspek rekreasi, serta aspek pendidikan jasmani dan rohani.
         Aspek cinta alam mengandung unsur pendidikan dan unsur religius. Unsur pendidikan memiliki fungsi sebagai upaya pewarisan nilai-nilai dan kepercayaan. Nilai-nilai seperti kejujuran, solidaritas, gotong-royong. Pendidikan juga berfungsi memberi latihan kepada generasi muda untuk memegang fungsi dan peranan dalam masyarakat.
Menurut Iqbal (K.G. Saiyidain, BA., M.Ed., dialihbahasakan oleh M.I. Soelaeman, 1981;171):
Pendidikan itu hendaknya bersifat dinamis dan kreatif dan diarahkan untuk memupuk dan memberikan kesempatan gerak kepada semangat kreatif yang bersemayam dalam diri manusia serta mempersenjatainya dengan kemauan dan kemampuan untuk menguasai bidang seni dan ilmu pengetahuan yang baru, kecerdasan dan kekuatan. Jadi pendidikan dimaksud hendaknya merupakan pendidikan yang diilhami oleh suatu keyakinan yang optimis tentang tujuan akhir manusia.

        Organisasi pecinta alam dalam melaksanakan kegiatannya termasuk ke dalam kategori olah raga alam bebas, di mana olah raga alam bebas ini memiliki beberapa aspek yang harus terpenuhi, yakni aspek cinta alam, aspek rekreasi, serta aspek pendidikan jasmani dan rohani.
Aspek cinta alam mengandung unsur pendidikan dan unsur religius. Unsur pendidikan memiliki fungsi sebagai upaya pewarisan nilai-nilai dan kepercayaan. Nilai-nilai seperti kejujuran, solidaritas, gotong-royong. Pendidikan juga berfungsi memberi latihan kepada generasi muda untuk memegang fungsi dan peranan dalam masyarakat.
Menurut Iqbal (K.G. Saiyidain, BA., M.Ed., dialihbahasakan oleh M.I. Soelaeman, 1981;171):
Pendidikan itu hendaknya bersifat dinamis dan kreatif dan diarahkan untuk memupuk dan memberikan kesempatan gerak kepada semangat kreatif yang bersemayam dalam diri manusia serta mempersenjatainya dengan kemauan dan kemampuan untuk menguasai bidang seni dan ilmu pengetahuan yang baru, kecerdasan dan kekuatan. Jadi pendidikan dimaksud hendaknya merupakan pendidikan yang diilhami oleh suatu keyakinan yang optimis tentang tujuan akhir manusia.

       Penjabaran kegiatan pendidikan yang menggambarkan interaksi edukatif yang bersifat normatif adalah adanya kesamaan keyakinan tentang tujuan pendidikan atau proses belajar mengajar yang akan dilakukan. Misalnya, guru atau instruktur dan peserta didik harus meyakini bahwa Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia. Demikian pula dalam proses Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR) Anggota Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam, instruktur dan peserta didik harus meyakini bahwa Kode Etik Pecinta Alam merupakan pedoman hidup dalam mencintai alam dan lingkungan sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Himpunan pecinta alam sebagai salah satu wadah pembinaan generasi muda dengan sengaja membina peserta didiknya sesuai dengan ketentuan moral yang tertuang dalam Kode Etik Pecinta Alam, sebagai peserta didik dituntut memiliki kemampuan dan nilai lebih dalam menginternalisasikan nilai yang tertuang dalam kode etik tersebut yang dapat dijadikan sebagai pedoman tingkah laku.
        Pendidikan dan Latihan Dasar Pecinta Alam (DIKLATSAR PA ) pada prinsipnya mencakup 6 (enam) nilai dalam Kode Etik Pecinta Alam, namun semua nilai tersebut menunjukkan arah agar sikap seorang pecinta alam sejati adalah seseorang yang memiliki sikap religius yang tinggi, karena nilai-nilai yang terkandung dalam Kode Etik memiliki makna kecintaan manusia kepada Tuhannya, kecintaan manusia kepada alam ciptaan Tuhan, kecintaan manusia kepada makhluk ciptaan Tuhannya dan mengekspresikan kecintaan manusia kepada Tuhannya, dalam bentuk menjaga dan memelihara alam agar serasi dan seimbang. Harapan yang muncul setelah peserta didik menjadi seorang anggota Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam akan memiliki kepribadian yang lebih baik serta memegang teguh nilai-nilai yang terkandung dalam Kode Etik Pecinta Alam.
        Harus diakui, masih sedikit sekali organisasi pecinta alam yang telah melakukan kegiatan pendidikan dengan melibatkan berbagai aspek secara integral, meskipun telah ada di beberapa organisasi pecinta alam di kota besar. Kemiskinan muatan ‘multi aspek’ dalam tubuh organisasi pecinta alam inilah yang perlu menjadi bahan keprihatinan.
Pada kenyataannya nilai yang tertuang dalam Kode Etik Pecinta Alam, belum seluruhnya dimiliki oleh setiap anggota kelompok pecinta alam. Masih terdapat pengertian yang salah kaprah terhadap bentuk-bentuk kegiatan yang dilaksanakan kelompok pecinta alam. Pada pelaksanaannya kegiatan pendidikan pecinta alam pada umumnya lebih memberikan kesan kepada kegiatan yang bersifat menumbuhkan kekuatan fisik semata, sehingga pelaksanaan pendidikan dasar himpunan pecinta alam lebih diwarnai dengan kegiatan fisik di lapangan sedangkan aspek non fisik berupa kegiatan kerohanian yang menyentuh nilai-nilai dan memunculkan sikap religius pada anggotanya seperti diskusi tentang kebesaran Allah dengan segala hasil ciptaan-Nya atau kegiatan melakukan ibadah shalat secara berjamaah jarang dilakukan dan biasanya kegiatan tersebut dianggap sebagai kegiatan bersifat pribadi dan individual. Pada akhirnya fenomena seperti itu menumbuhkan kesan di masyarakat bahwa himpunan pecinta alam adalah kelompok pemuda yang urakan, bebas, hura-hura, dan cenderung tidak peduli terhadap lingkungan disekitarnya.
         Tidaklah heran bilamana pada anggota yang dihasilkan dari pendidikan dasar tersebut masih terdapat individu-individu yang berperilaku seenaknya yang menandakan bahwa mereka belum betul-betul menghayati nilai-nilai yang hendaknya dimiliki oleh seorang pecinta alam. Perilaku seenaknya dan kurang bertanggung jawab seperti membabat tanaman dan pepohonan seenaknya untuk lokasi mendirikan tenda dan membuat api unggun, membuang sampah seenaknya, atau bahkan membawa dan meminum minuman keras. Individu-individu seperti itu jelas belum sesuai dengan tujuan pendidikan dasar atau Kode Etik Pecinta Alam, namun demikian individu-individu seperti itu seringkali masih dijumpai pada kelompok-kelompok pecinta alam.
Idealnya manusia sebagai khalifah Allah SWT dimuka bumi wajib memelihara alam, sebagaimana Allah SWT menciptakan dan memeliharanya dalam keadaan teratur, tertib, seimbang dan indah. Dimana satu sama lain komponennya saling tergantung atau patuh kepada aturan-aturan Allah SWT karena alam ini diperuntukan Allah SWT bagi manusia, maka manusia wajib mengolah dan memanfaatkannya sesuai dengan amanah yang memberikannya (disarikan oleh Z.S. Nainggolan, Al-Quran Surah Al-Baqarah; 2:164, Al-Hajj; 22:5-7, Al-Naml; 27:88, Al-Mulk; 67:1-5, Al-Sajadah; 32:7, Al-Jumu’ah; 62:1, Al-Naml; 16:14-18).
Fenomena sosok pecinta alam yang belum dapat mengamalkan dan menginternalisasikan nilai-nilai yang tertuang dalam Kode Etik Pecinta Alam, menyebabkan pentingnya penekanan visi dan misi organisasi pecinta alam dalam melaksanakan pendidikan dan latihan dasar (DIKLATSAR) yang bertujuan membentuk anggota yang memiliki fisik dan mental yang tangguh dalam kehidupannya sehari-hari.
         Jika melihat uraian karakteristik Himpunan Pecinta Alam dan Kode Etik yang dimiliki, maka betapa pentingnya Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR) bagi calon anggota Himpunan Pecinta Alam, karena sebagai salah satu program yang bersifat ekstrakurikuler, maka Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam memiliki tanggung jawab untuk menjadikan anggotanya sebagai anggota yang memiliki kepribadian yang ideal.

B. Tujuan DIKLATSAR PA
        Bila mengacu kepada nilai–nilai yang tertuang dalam Kode Etik Pecinta Alam maka, maka dapat dikemukakan bahwa tujuan Diklatsar PA hendaknya merupakan integrasi dari kegiatan yang bersifat pendidikan jasmani dan rohani. Ada baiknya , uraian berikut ini dijadikan sebagai acuan penentuan tujuan Diklatsar PA , yakni :
  1. Tujuan pendidikan dasar mahasiswa pecinta alam, sebagai organisasi ekstrakurikuler mendukung usaha-usaha pencapaian tujuan pendidikan nasional. Kegiatannya yang bersifat fisik dan non fisik sehingga diharapkan seorang anggota himpunan pecinta alam lebih memahami dan menghayati dirinya sebagai seorang yang memiliki nilai lebih dalam memandang dirinya sebagai makhluk al-Khaliqnya, dalam memandang dirinya sebagai bagian dari lingkungan yang diciptakan oleh Allah SWT, dalam memandang dirinya sebagai bagian dari lingkungan sosialnya.
  2. Untuk mengungkapkan gambaran empiris tentang perubahan perilaku, tingkat internalisasi nilai-nilai dalam Kode Etik Pecinta Alam dalam sikap religius Pecinta Alam setelah mengikuti pendidikan dasar Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam, serta upaya dalam menemukan format pendidikan dasar Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam yang sesuai dengan peningkatan prestasi, menyangkut materi pendidikan dasar, metode, dan evaluasi.
  3. Membuat “Kurikulum” Program DIKLATSAR PA, dalam format yang disesuaikan secara normatif, tergantung kepada dimana “home base” organisasi tersebut berada, misalnya; Kurikulum antara Org PA yang profesional, seperti Skygers, ORAD, Atau Penyelenggara ‘Out bond’, akan berbeda dengan Kurikulum Diklatsar PA LPTK atau Diklatsar PA Universitas.
  4. Sudah saatnya Pecinta Alam memiliki satu kurikulum dasar dalam melaksanakan pendidikan secara nasional. meskipun begitu tidak bisa dipungkiri bahwa masing-masing organisasi memiliki kurikulum sendiri, yang diklaim mungkin terbaik menurut mereka dibandingkan kurikulum Diklatsar PA yang lain. Untuk mempersatukannya memang agak sulit, namun bukan berarti tidak bisa, diperlukan ekstra kerja keras, dari semua pihak dan yang paling utama adalah adanya fasilitator yang bisa mempersatukan PA-PA ini. dan fasiltator yang paling tepat adalah pemerintah.
         Secara tersirat dikemukakan bahwa sikap mental yang luhur merupakan tujuan utama pembinaan generasi muda dalam kegiatan himpunan pecinta alam. Untuk itu dalam pelaksanaan kegiatannya perlu dirancang suatu program yang terintegrasi meliputi aspek mental, fisik, materil dan spiritual. Langkah awal Himpunan Pecinta Alam dalam upaya mencapai tujuan tersebut adalah Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR), yang harus dijalankan oleh calon anggota, untuk meraih predikat anggota dan selanjutnya berkiprah sebagai anggota dan menjalankan status dan perannya sebagai anggota pecinta alam.
Organisasi pecinta alam dalam melaksanakan kegiatannya termasuk ke dalam kategori olah raga alam bebas, di mana olah raga alam bebas ini memiliki beberapa aspek yang harus terpenuhi, yakni aspek cinta alam, aspek rekreasi, serta aspek pendidikan jasmani dan rohani.
        Aspek cinta alam mengandung unsur pendidikan dan unsur religius. Unsur pendidikan memiliki fungsi sebagai upaya pewarisan nilai-nilai dan kepercayaan. Nilai-nilai seperti kejujuran, solidaritas, gotong-royong. Pendidikan juga berfungsi memberi latihan kepada generasi muda untuk memegang fungsi dan peranan dalam masyarakat.
        Makna religius yang terdapat pada aspek mencitai alam, maksudnya adalah dengan mengenal alam semesta maka manusia akan percaya adanya Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta. Dalam kesempatan menikmati betapa indahnya alam semesta manusia mulai bertanya pada dirinya, seperti dikemukakan oleh RF. Beerling : ... pada dasarnya manusia yang berfikiran secara filsafat senantiasa meninjau dirinya sendiri. Biarpun dia tidak tegas mempersoalkan dirinya sendiri. Demikian juga di dalam al-Qur’an (QS. Al-Jatsiyah; 12-13) disebutkan bahwa :
Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar dengan seijin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian dari kesenangan dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menunjukkan unukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya sebagai rahmat daripada-Nya. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS. Al-Jatsiyah; 12-13)

        Konsep di atas menunjukkan bahwa dalam kegiatan mencintai alam setiap insan pecinta alam terlibat dalam proses bersikap setia dan taat akan aturan atau tata nilai dan kaidah-kaidah organisasi pecinta alam.
        Aspek rekreatif, artinya bahwa rekreasi adalah aktivitas di waktu senggang. Rekreasi merupakan aktivitas yang sehat bagi mental, sosial dan fisik sebagai pelengkap dari aktivitas kegiatan sehari-hari, karena itu kegiatan rekreasi diperlukan oleh setiap individu. Aktivitas pecinta alam akan memberikan kesegaran baik fisik maupun mental, menumbuhkan rasa gembira dan puas diri serta membangun kembali vitalitas tubuh dan sifat-sifat energik dalam kehidupan sehari-hari baik bersifat kelompok maupun individu.
         Aspek pendidikan jasmani dan olah raga, adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani dalam rangka memperoleh peningkatan kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan kecerdasan dan pembentuk watak.
Unsur-unsur dasar aktivitas jasmani, yaitu : (1) pembentuk watak, (2) pembentuk prestasi, (3) pembentuk sosial, serta (4) pertumbuhan badan.
Ada berbagai alasan atau penyebab mengapa manusia melakukan olah raga. Alasan tersebut diantaranya adalah faktor lingkungan. Sedangkan motivasi manusia melakukan olah raga, yaitu :
1. Penyesuaian terhadap lingkungan hidup sendiri (sekitar tempat tinggal, sekolah atau tempat pekerjaan),
2. Penyesuaian geofisik, iklim mempengaruhi pilihan seseorang (perairan, padang rumput, gunung-gunung),
3. Penyesuaian harapan (tingkatan, golongan, tempat bekerja, pengalihan status),
4. Sikap meniru dari olahragawan yang sukses,
5. Penyesuaian pada lingkungan baru.
        Pada dasarnya pendidikan dan latihan dasar (DIKLATSAR) Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam memiliki tujuan untuk membentuk manusia yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
       Nilai keimanan dan ketakwaan dalam kehidupan individu, masyarakat dan kehidupan bernegara di Indonesia merupakan nilai yang sangat mendasar, sebagai konsekuensi dari Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila, yang harus dihayati dan diamalkan oleh seluruh warga negara Indonesia. Karena tanpa memiliki keimanan yang benar dan ketakwaan yang mantap tidak mungkin tercapai masyarakat modern berdasarkan Pancasila yang dicita-citakan masyarakat Indonesia (Djamari, 1994:2).
       Ketakwaan individu terhadap Tuhan Yang Maha Esa menentukan kadar hubungan dengan sesamanya. Oleh karena itu sesungguhnya merupakan kewajiban luhur bagi manusia untuk selalu membina sifat cinta kasih dalam dirinya agar pribadinya lebih dekat dengan Tuhannya. Manusia ditugaskan untuk menebarkan cinta dan kasih sayangnya bukan hanya antar manusia saja, melainkan kepada segenap isi alam, baik benda hidup maupun benda mati, seperti air, tanah, pepohonan dan sebagainya. Sebagaimana firman Allah Taala (QS. 26:183) berikut ini: “Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan berbuat kerusakan”.
Dilihat dari tanggung jawabnya manusia adalah makhluk yang ditugaskan untuk memakmurkan bumi, mengelola, dan melestarikannya. Al-Qur’an memberi syarat tentang perilaku manusia terhadap alam yaitu ketika Allah berdialog dengan malaikat, pada saat Adam as diciptakan (Nurdin, Muslim dkk., 1995:269) :
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) ini orang yang akan membuat kerusakan padanya, dan menumpah darah, padahal kami senantiasa bertasbih memuji Engkau? Tuhan berfirman, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui (QS. 2:30).

       Dengan perkataan lain orang yang bertakwa adalah orang yang melaksanakan rukun iman dan Islam atau apa yang disandang oleh orang muslim. Terlepas apakah konotasinya lengkap atau tidak, konsep takwa adalah konsep Islam yang disumbangkan kepada Tujuan Pendidikan Nasional (Yusuf Amir Feisal, 1995:73).
Berdasarkan uraian diatas, jelaslah dapat ditarik kesimpulan bahwa Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR) Pecinta Alam merupakan operasionalisasi tujuan pendidikan nasional dalam kegiatan ekstrakurikuler dimana Pancasila ditempatkan sebagai falsafah pendidikan, dan menempatkan ketakwaan manusia Indonesia pada posisi yang paling utama. Dengan demikian seorang anggota himpunan pecinta ditempa sedemikian rupa dalam DIKLATSAR, untuk lebih dapat melihat, merasakan, mengaggumi ciptaan-Nya, sehingga diharapkan makin kuat dalam hal agama dan imannya dan dijabarkan dalam sikap yang religius.

C. Nilai-nilai dalam Kode Etik Pecinta Alam
        Organisasi Pecinta Alam sebagai organisasi yang dengan sengaja membina peserta didiknya sesuai dengan ketentuan moral yang ada dalam Kode Etik Pecinta Alam, dituntut untuk membina anggotanya agar memiliki kemampuan lebih menginternalisasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya, hal ini dimungkinkan mengingat bahwa nilai-nilai dalam Kode Etik Pecinta Alam disusun secara sistematis dan memiliki makna yang sangat tinggi.
        Berikut ini adalah keseluruhan nilai yang terdapat dalam Kode Etik Pecinta Alam yang digunakan sebagai pedoman tingkah laku dan ketentuan moral para anggota Himpunan Pecinta Alam.

KODE ETIK PECINTA ALAM SE-INDONESIA
Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Pecinta Alam Indonesia sebagai bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kami kepada Tuhan, bangsa dan tanah air.
Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam adalah sebagai makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.
Sesuai dengan hakekat di atas dengan kesadaran kami menyatakan :
1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa,
2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya,
3. Mengabdi kepada Bangsa dan tanah air,
4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat,
5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam,
6. Berusaha saling membantu serta saling menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, bangsa   dan tanah air,
7. Selesai.
    
       Apabila dikaji isi dari butir-butir nilai yang dalam Kode Etik Pecinta Alam yang terdapa di atas, maka kiranya cukup lengkap untuk dijadikan pedoman bagi seluruh anggota Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam, baik yang terdapat di lingkungan pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi, untuk bersikap dan berperilaku dalam rangka hidup sebagai manusia yang mencintai Alam Lingkungannya sebagai Ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Disamping nilai-nilai moral lainnya yang telah dijadikan pedoman hidup seluruh Bangsa yang nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila yang dijadikan pedoman hidup bangsa Indonesia dalam rangka hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.
       Selaku anggota Himpunan Pecinta Alam, peserta didik senantiasa berpegang kepada janji moral, yaitu Kode Etik Pecinta Alam, ketentuan moral tersebut merupakan prinsip dasar yang dipakai sebagai pedoman menjalankan segala aktivitasnya dalam program kegiatan organisasinya.
Setiap nilai yang terdapat dalam Kode Etik Pecinta Alam menunjukkan suatu hubungan, baik vertikal maupun horizontal. Kewajiban ini harus dilakukan dalam perbuatan nyata oleh setiap anggota, sebagai realisasi dari nilai-nilai yang telah diterima dan dipahami dalam Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR) Pecinta Alam.
       Hubungan horizontal sebagai suatu kondisi dalam manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial mempunyai naluri dan kewajiban agar bergaul dan berinteraksi dengan sesamanya.
Terlebih lagi hubungan vertikal, yakni antara manusia dengan Tuhan-nya, segala tingkah laku dan sikap manusia pada dasarnya bertujuan untuk menunjukkan kesadaran manusia sebagai makhluk Tuhan, sehingga perilaku yang muncul diharapkan dapat mencerminkan sikap religius yang tinggi, yang dijabarkan dalam interaksi, dengan sesama manusia, dengan lingkungan alam dan yang terutama dengan Tuhannya.

D. Proses Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR)
        Proses Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR) pada organisasi pecinta alam mengikuti kaidah-kaidah pendidikan dan pengajaran yang dilakukan di sekolah pada umumnya. Yang membedakannya terletak pada lingkup kegiatannya. Pendidikan sekolah merupakan pendidikan formal, sedangkan DIKLATSAR merupakan kegiatan non-formal dan bersifat ekstrakurikuler. Sedangkan proses yang terjadi adalah proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru atau instruktur dan peserta didik.

E. Sikap Religius Anggota Pecinta Alam yang Sesuai dengan Nilai-nilai dalam Kode Etik Pecinta Alam
        Sikap merupakan suatu kesiapan dari individu untuk bertindak. Kesiapan yang dimaksudkan adalah berhubungan dengan pemikiran dan perasaannya terhadap sesuatu obyek sebelum individu tersebut tertindak. Sejalan dengan pendapat tersebut, Witherington (1982:10), mengemukakan : “Sikap adalah hal yang berhubungan dengan cara-cara berpikir dan berasa terhadap soal-soal yang mengandung nilai”.
      Ellis (tanpa tahun:228), mengemukakan tentang sikap, yaitu “Attitude involve some knowledge of situation. However, the essential aspect of the attitude is found in the fact that some characteristic feeling or emotion is experinced and as we would accordingly espect, some definite tendency to action is associated”.
Menurut Ellis, yang sangat memegang peranan penting di dalam sikap adalah faktor perasaan atau emosi, dan faktor kedua adalah reaksi atau respons, atau kecenderungan untuk bereaksi.
       Dalam beberapa hal, sikap merupakan penentu yang penting dalam tingkah laku manusia. Sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang (like), atau tidak senang (dislike), menurut dan melaksanakannya atau menjauhi / menghindari sesuatu.
       Dari definisi-definisi sikap yang telah diuraikan di atas, jika diperhatikan sebagian besar dari definisi atau pendapat tersebut selalu tercantum kata kecenderungan, yang memberikan arti adanya kesediaan atau kesiapan mental dan syaraf yang berpengaruh dan bersifat mengarahkan respon individu terhadap obyek atau situasi. Jadi sikap belum merupakan tindakan melainkan baru merupakan suatu kesiapan (readiness). Seperti pendapat yang dikemukakan oleh Nurkancana, Wayan dan Sunartana (1982:249) bahwa sikap akan memberi arah kepada perbuatan dan tindakan seseorang.
       Berdasarkan gambaran di atas, maka sikap religius terbentuk atau berubah, bermula dari stimulus yang telah diterima berupa materi DIKLATSAR PECINTA ALAM melalui proses perhatian, pengertian. Jadi melalui komponen kognisi dan afeksi.
Oleh karena itu keberhasilan proses tersebut di atas tergantung dari kemampuan belajar anggota Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam, yang pada umumnya ditunjukan atau dapat dilihat dari prestasinya.
Akhirnya dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sikap religius yang sesuai dengan nilai-nilai Kode Etik Pecinta Alam adalah kesiapan atau kecenderungan bertindak religius dari para anggota Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam yang sesuai dengan nilai-nilai dalam Kode Etik Pecinta Alam. Yang terdiri dari komponen kognisi yakni pemahaman anggota Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam terhadap sikap religius yang sesuai dan nilai-nilai yang tertuang dalam Kode Etik Pecinta Alam, komponen afeksi yakni keyakinan emosional anggota Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam terhadap sikap religius yang sesuai dan nilai-nilai yang tertuang dalam Kode Etik Pecinta Alam, dan komponen konasi yakni kecenderungan untuk berperilaku dari anggota Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam yang sesuai nilai-nilai yang tertuang dalam Kode Etik Pecinta Alam dimana kecenderungan tersebut mungkin positif atau mungkin negatif.

F. Nilai Sportifitas dalam DIKLATSAR PA
       Manusia adalah gabungan antara aspek fisik, mental, spiritual, sehingga bila terjadi proses pendidikan hendaknya mencakup multiaspek tersebut.
        Dalam Diklatsar kegiatan operasional biasanya dikembangkan dalam berbagai divisi kegiatan misalnya :, divisi Hutan Gunung, Arung Jeram, Penelusuran Gua, Panjat Tebing dan divisi lingkungan.
Inilah kegiatan PA yang disebut dengan kegiatan yang menumbuhkan nilai sportifitas, karena disamping mempersyaratkan kondisi fisik yang prima, juga diperlukan nilai sportifitas yang tinggi pada sikap dari setiap anggota PA tersebut.
Dalam perkembangannya, kegiatan operasional pada pecinta Alam seringkali mengalami pasang surut tergantung kepada kuantitas peminat, dalam hal ini anggota PA yang memutuskan untuk memilih ‘spesialisasi tersebut.
       Untuk mengatasi keadaan tersebut ada baiknya ditempuh beberapa langkah, misalnya adanya pendivisian dan pembuatan kurikulum operasional. Pendivisian dimaksudkan agar regenerasi di masing-masing divisi terus berjalan dan kurikulum operasional merupakan acuan berkegiatan bagi anggota Pecinta Alam di dalamnya terdapat materi-materi operasional dan materi penunjang lainnya. Dari kurikulum operasional ini dibuat sebuah schedule kegiatan sebagai panduan untuk semua kegiatan operasional. Pengaturan jadwal kegiatan lapangan dibuat agar tidak terjadi benturan jadwal kegiatan antara sesama divisi di operasional dan bidang-bidang lain di dalam organisasi PA tersebut.
Sumber : rinayantiyudhia.blogspot.com salam lestari

Rabu, 22 Juni 2016

Mapala Minta Materi Lingkungan Hidup Masuk Dalam Kurikulum Pendidikan di Sumut

Tribun Medan / Nanda
Perwakilan organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Sumut asal UMSU Muhammad Nur Rifai saat memberikan pandangan pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi B DPRD Sumut, Dinas Kehutanan Pemprov Sumut, Dinas Kehutanan Kabupaten Karo, Dinas Pariwisata Deliserdang dan Camat Sibolangit, Rabu (22/6/2016).


Laporan Wartawan Tribun Medan / Nanda F. Batubara
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Perwakilan organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) se Sumut meminta pendidikan lingkungan hidup dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan di Sumut.
"Kami sudah sampaikan ini berulang kali, tapi tidak ada tindaklanjutnya. Pendidikan lingkungan hidup ini harus ada di kurikulum kita, kalau bisa kita di Sumut jadi pelopor ini," ujar perwakilan Mapala asal UMSU, Muhammad Nur Rifai saat memberikan pandangan pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi B DPRD Sumut, Dinas Kehutanan Pemprov Sumut, Dinas Kehutanan Kabupaten Karo, Dinas Pariwisata Deliserdang dan Camat Sibolangit, Rabu (22/6/2016).
Menurut lelaki yang akrab disapa Black tersebut, kurikulum pendidikan lingkungan hidup merupakan satu solusi jangka panjang guna mengurangi tindak perusakan kawasan hutan di Sumut.
"Ini untuk generasi penerus kita, kalau mau cerita pencegahan perusakan hutan, ya, harus seperti itu, masuk dalam pendidikan dulu," ujarnya.
Meski pendapat yang diberikan Black tersebut disambut baik oleh peserta RDP yang hadir, namun tidak ada rencana tindak lanjut yang diberikan.
"Kita coba nanti sampaikan ini," ujar Ketua Komisi B DPRD Sumut Sopar Siburian.
(cr5/tribun-medan.com)
Penulis: Nanda Fahriza Batubara
Editor: Sofyan Akbar
Sumber: Tribun Medan

MEMAKNAI PENDIDIKAN DASAR PECINTA ALAM

DIKSAR PECINTA ALAM, sebuah kata yang tak asing didengar. Sebuah prosesi yang harus dijalani bagi calon penerus baru organisasi penggiat alam. Suatu ritual yang seakan menjadi momok menakutkan bagi mereka. Penuh tekanan, penuh persiapan, penuh finansial, sarat akan kekerasan, dan terkadang tak sedikit jatuh korban. Saya akan telaah sejenak, apakah benar demikian? Apa yang mendasari itu semua? dan, Ada apa dibalik proses pendidikan yang selama ini tetap dipertahankan?
Suatu ketika saya mendengar berita musibah pada suatu pendakian gunung, banyak diantara mereka yang menjadi korban dan meninggal. Saya mencoba mencari tahu lebih banyak berita sejenis, pada siapa dan mengapa kecelakaan ini terjadi?.
16 Santri Sempat Dikabarkan Hilang di Gunung Salak. (poskota.co.id)
5 pendaki hilang di gunung singgalang (metrotvnews.com)
siswa smk hilang di puncak gunung Kawi (antarajatim.com)

pendaki asal bekasi meninggal (solopos.com)
mayat di gunung Pangrango di evakuasi (bataviase.co.id)
7 pendaki tewas di rinjani (youtube.com)
Begitulah kejadian yang nyata didepan kita, apakah kita menutup mata jika nyawa seakan sudah tak ada harganya. Siapa yang peduli? Siapa yang bertanggung jawab? Siapa yang menelan pahit tercorengnya citra sebuah organisasi, lembaga, bahkan Negara karena tak bisa memfasilitasi rakyatnya untuk sekedar menikmati alam?
Apa kaitannya dengan pendidikan dasar pecinta alam?
Contoh kecelakaan diatas bisa terjadi pada siapa saja. Orang yang professional sekalipun punya resiko yang sama ketika ia menempatkan dirinya di alam bebas. Kita tidak bisa memungkiri adanya kehendak Tuhan, namun yang bisa kita lakukan adalah mengurangi resiko kemungkinan terjadinya kecelakaan tersebut dari sisi manusia nya sendiri (human error). Menjadi sorotan utama apa saja yang kita butuhkan, bukan hanya sekedar fisik dan ilmu. Memang keduanya begitu sangat penting, namun bukan yang terpenting apabila keduanya berdiri sendiri-sendiri. Banyak hal yang terjadi selama dilapangan, kombinasi dari beberapa elemen yang kita miliki bisa menjadi solusi yang lebih baik.
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa diksar tidak hanya mempersiapkan skill dalam berkegiatan di Alam, namun juga sebagai tonggak awal berkembangnya mental dan insting mereka. Akhirnya dari kombinasi itu mereka lebih percaya diri, lebih mampu mengukur kemampuannya, dan peka terhadap sekelilingnya. Selalu mempertimbangkan akal sehat dan bukan sekedar menuruti hawa nafsu. Bisa saya katakan bahwa, lebih banyak kecelakaan terjadi (tersesat, hilang, dsb) bukan karena lemah fisiknya, namun karena kurang rasa percaya diri, dan hilangnya fungsi seorang pemimpin. Kondisi demikian berlanjut pada kacaunya komunikasi antar anggota, ketidak percayaan pada pemimpin, rasa takut yang hebat, hingga hilangnya semangat untuk mempertahankan hidup. Disini diksar memiliki peranan yang amat penting sebelum seseorang melangkahkan kakinya di Alam bebas.
Apakah diksar adalah pilihan satunya-satunya? Bagaimana dengan seseorang yang memiliki pengalaman dan jam terbang yang tinggi haruskah juga melewati prosesi ini?
Saya sangat setuju bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, pengalaman dapat lebih menunjukkan identitas dan karakter kita. Apalagi seseorang yang memiliki jam terbang yang tinggi, secara tidak langsung ia telah mendorong dirinya untuk cepat berkembang. Tidak heran bahwa nantinya akan tumbuh daya juang yang tinggi dan respon tubuh yang baik saat kondisi yang tidak diinginkan. Diksar adalah lompatan awal yang akan di follow-up lagi dengan banyaknya jam terbang. Namun tidak mutlak harus dilalui jika ia mampu melompatinya dengan baik dan sama berat porsinya.
Banyak teman saya yang tidak memiliki background PA atau belum pernah melalui prosesi diksar, namun bisa lebih mengkondisikan dirinya dalam berbagai situasi, menghasilkan solusi yang brilliant, dan bisa diandalkan. Dan banyak juga teman saya yang memiliki background PA hanya sebatas kebanggaan akan lencana yang ia pakai, namun tidak bisa menolong dirinya dan bahkan menjadi benalu bagi yang lain. Diksar adalah pintu pertama dalam sebuah kurikulum namun outputnya tergantung dari isi dan orangnya masing-masing. Namun jika kita tidak tahu apa-apa, mengikuti seluruh kurikulum dengan baik adalah jalan yang lebih aman.
Berikut saya coba uraikan beberapa point yang ada dalam diksar pecinta alam:
  1. Pembentukan mental dan karakter yang kokoh
  2. Pembentukan sikap rendah diri dan peduli lingkungan
  3. Pembentukan kapasitas ilmu dalam berkegiatan di alam
  4. Pembentukan kesadaran akan rasa kesamaan, kebersamaan, dan kekeluargaan
  5. Membentuk pribadi yang bijak dan beradab
Beberapa penggalan cerita dibawah ini sekiranya bisa menjabarkan point-point di atas. Sebuah pengalaman pribadi yang saya alami ketika Pendidikan di beberapa organisasi PA..
OTAK YANG ADA DIANTARA PERUT DAN LUTUT
Sebuah keyakinan bagi kita semua, bahwa seluruh manusia dilahirkan dalam keadaan bodoh, lemah fisik dan juga akalnya. Semua kemajuan yang ada pada dirinya berkembang setelah ia mau belajar, merasakan dan memahami apa yang dibutuhkannya. Namun, terkadang kita tak menyadari, ada sesuatu yang teramat penting yang sering kita lupakan seiring meningginya daya pikir manusia, yaitu ‘hati nurani’.
Sedikit pelajaran berharga yang pernah saya dapatkan ketika diksar. Satu keadaan dimana fisik seolah dikembalikan ketitik Nol, tanpa keangkuhan yang biasa merangkul kita berdiri, dan mulut hanya mampu berbicara berdasarkan akal dan perasaan saja. Ada satu pertanyaan panjang yang terlontar ketika itu dan berakhir, “….Apa kamu pintar!!?”, sebuah pertanyaan yang teramat sederhana namun teramat sulit untuk kujawab. Tak terhitung berapa kali otak ini berpikir hingga beban dipunggung serasa pindah dikepala. Dua opsi yang ada, berkata Ya dengan nada terendah atau Tidak! dengan suara lantang dan menerima akibatnya. Tampak jelas terasa ketika tidak ada sesuatupun yang dapat membantu kita, itulah diri kita sebenarnya. Diri kita yang tak berdaya dan hilang semangat ketika tak ada yang menyanjung kita, tak ada teman yang biasa kita susahkan tanpa kita sadari, tidak percaya diri, selalu bimbang jika kita merasa tak membutuhkan orang lain.
Pertanyaan lain yang terlontar, “Ada dimana otakmu!!??”, ini bukan pertanyaan ilmiah, dan sekarang saya baru sadar ini juga bukan jebakan. Sebuah analogi yang merepresentasikan akal saat itu, bahkan membuat seseorang dibawah titik Nol dan akan semakin memperjelas kapasitas orang tersebut. Kunci dari semua itu adalah hati nurani, dimana hatimu berada ia harus terletak diatas akalmu, agar kita tidak besar kepala, sombong dengan apa yang kita bisa. Dan akal tidak sampai dibawah lutut karena ia adalah pangkal kebodohan, tidak ada artinya kebaikanmu dituntun oleh kebodohan. Akalmu harus terletak diantara lutut dan hati/ perut!.
LAYAKNYA TEMBIKAR IA TAKKAN HABIS DIBAKAR
Ada satu cerita yang pernah saya baca di sebuah buletin Pasma54. Sebuah metafora menggambarkan bahwa Diksar, Dikjut , pengembaraan, tak lain adalah sebuah proses yang penting bahkan wajib ada dalam program pendidikan sebuah organisasi penggiat alam. Cerita yang mengubah pandangan saya yang selama ini bisikan-bisikan tetangga telah melembekkan diri saya. Mungkin tidak lazim untuk mereka, karena mereka tidak membutuhkannya. Berbicara hanya pada satu sudut pandang saja, tanpa tahu apa yang terjadi pada para penggiat yang membutuhkannya.
Balada Api dan Tanah Liat!!
Disuatu malam ada sebuah desa yang terkena musibah kebakaran, tak berapa lama semuanya terlahap api yang besar. Sangat tiba-tiba, sehingga penduduk pun tak sempat menyelamatkan barang-barang berharganya, hanya nyawa yang bisa ia bawa. Hari menjelang pagi dan api pun mulai padam. Banyak yang kembali untuk sekedar melihat apa yang bisa mereka bawa dari sisa puing-puing rumah mereka. Semuanya tampak abu, televisi, radio, pakaian, sepeda, semuanya tak luput oleh api. Ada beberapa perabotan yang selamat, aneh beberapa bahkan ada yang masih mengkilap dan utuh: Periuk dari tanah liat yang dibakar, guci, gelas dan piring beling, vas bunga, asbak, celengan dan benda-benda yang terbuat dari keramik. (reoN:2005)
Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari sana? Jika kita diibaratkan seperti tembikar atau puing-puing yang selamat, tentu kita akan mengalami proses yang sama dengannya untuk bertahan dari musibah yang datang. Periuk dari tanah liat, harganya murah, namun proses pembuatannya yang ditempa dan dibakar menjadikan ia kuat dilahap api. Seorang tentara yang setiap harinya ditekan dan digembleng, tak lain agar ia siap menghadapi ujian yang sesungguhnya. Dimana ia bergantung pada potensi maksimalnya yang ia dapatkan pada saat latihan. Begitupun seorang PA (Pecinta Alam), ketika mendaki gunung, memanjat tebing, arung jeram, telusur goa, dan lainnya adalah kegiatan yang riskan dan penuh resiko. Kita tak tahu bahaya apa yang mungkin bisa saja terjadi secara tiba-tiba. Tidak hanya fisik dan keterampilan yang harus ia miliki namun juga mental yang bisa ia bakar.
KETIKA AIR MATA MENETES DIKULIT YANG PENUH DENGAN SAYATAN
“Telah hilang semangat hidup, apabila kita berpikir untuk mati. Akan datang kekuatan baru apabila kita berpikir untuk hidup dan berharap lebih jauh lagi”. Mungkin kekuatan sugesti itulah yang masih menggerakkan tubuhku hingga klimaksnya. Golok yang tak hentinya mengayun dan menghabiskan sendi-sendi tangan ini bergetar dan beberapa kali lepas dari genggaman. Kaki-kaki yang tak lagi kurasakan pijakannya bagaikan sabatang kayu keropos yang ditindih beban yang tak masuk akal beratnya. Lelah, lelah sampai beberapa kali berhalusinasi, itulah istirahatku yang cuma semu ditengah pijakan panjang yang terjal.
Hangatnya sinar matahari, berharap untuk bisa menembus kulitku. Walaupun keringat akan mengucur deras, nampaknya lebih baik daripada terlalu lama menggigil dibalut pakaian basah. Jalan setapak dengan lumpur yang bergejolak menyiprati wajah dan memendam sepatu boot ku, tak sebanding untuk tubuh yang hampir tumbang ini. Hari masih siang namun diufuk telah redup cahayanya,mengisyaratkan dinginnya malam nanti menjadi cobaan yang berat untuk dilewati. Malam dimana luapan kecapaian bercampur aduk dengan harunya peristiwa memilukan.
Perasaan sedih dan cemas melihat rekan yang terserang hipotermia hingga sebatang sendok pun bengkok menahan rahangnya. Mereka yang sempat memuntahkan makanannya tak kecewa walau tadi harus merangkak karena tak ada asupan tenaga. Beberapa orang susah payah mengikat bivak walau jarinya telah kaku kedinginan. Sebuah pemandangan yang teramat pilu dan menggetarkan hati, namun kelelahan dan kepayahan telah dicerna dengan baik, sehingga hanya ada satu kata, “Kebersamaan” apapun yang terjadi.
Ketika air mata menetes di kulit yang penuh dengan sayatan, menjadi arti mahalnya sebuah pengorbanan. Pengorbanan untuk membentuk satu keluarga diatas prinsip kebersamaaan. Bertahan dari berbagai ujian yang datang, semuanya saling menyemangati, saling interospeksi demi tujuan bersama. Hal seperti itulah yang dapat membuka mata bagi orang yang paling egois sekalipun. Sesuatu yang menjadikan tubuh ini seakan hidup kembali, hidup bukan untuk dirinya sendiri tapi juga orang lain. Sebuah pelajaran yang berharga untuk diresapi dan akan diingat sepanjang hayat.
NILAI YANG TAK TERNILAI HARGANYA
Kesamaan dan kebersamaan adalah pondasi yang bisa mewujudkan tali persaudaraan. Tapi apakah pangkal dari kesamaan? Takdir? mungkin pengorbanan lah yang lebih tepat, karena begitu banyak karakter manusia yang takkan bisa disatukan tanpa ada sebab musababnya. Logika akan sejalan dan mengalir dengan waktu dan perubahan zaman, namun perasaan akan membimbing ketika ia melihat kepercayaan, dan kadarnya sebanding dengan apa yang ia saksikan, pembuktian yang nyata sehingga ia tak menempatkan logika diatas segala-galanya.
Edelweiss yang tumbuh di puncak, mengakar keras dalam kebersamaan. Kesetiaannya akan terus abadi walau badai menerjang dan sengatan matahari memudarkan warnanya. Ia dibesarkan oleh perjuangan, tumbuh karena keyakinan dan kesetiaan, dan cobaan lah yang akan membuktikannya. Tidak sedikit bibit-bibit lain yang iri padanya, bahkan yang besar ingin sekali merampasnya. Bibit-bibit kecil ternyata tak lebih berat perjuangannya, dan yang besar terlalu sombong tak membutuhkan yang lain. Sepertinya edelweis tak perlu bersusah payah untuk menjaga keutuhannya dari yang lain.
Perjuangan dan pengorbanan yang sesungguhnya memiliki makna yang mendalam. Ia akan selalu terpatri dalam hati, mengiringi dalam setiap langkah, dan menjadi batu loncatan dalam memperbaiki diri. Sesuatu yang menjadikan seseorang bijak, tidak tampak namun begitu mahal harganya. Amat mahal sehingga Ia takkan rela sesuatu itu direnggut oleh orang lain.
PEKERJAAN RUMAH YANG BERAT
Ada seorang siswa yang menjadi peserta terbaik dalam sebuah pelatihan dasar kepemimpinan yang diadakan sekolahnya. Tapi dia sama sekali tidak terpilih menjadi ketua atau kandidat ketua atau bahkan menjadi anggota OSIS atau MPK sekalipun. Ternyata ada perbedaan penilaian antara penyelenggara pelatihan dengan panitia penyeleksi OSIS-MPK, itu mungkin kalau kita berpikir terlalu positif. Namun itu tidak logis karena menurutnya seperti apa yang digembar-gemborkan bahwa syarat menjadi anggota OSIS-MPK harus melalui tahap pelatihan dasar kepemimpinan, otomatis penilaian mutlak dilihat dari hasil proses tersebut. Bukan dari penilaian pendapat oleh sebagian panitia atau orang yang berkepentingan didalamnya. Satu alasan yang mungkin, adalah karena peserta terbaik itu adalah anggota organisasi Sispala. Diperkuat lagi dengan kenyataan bahwa tak satupun anggota Sispala yang aktif lolos menjadi anggota OSIS-MPK. Satu bukti bahwa kepercayaan guru atau orang-orang yang memegang jabatan tinggi disekolah itu sangat jauh.
Ada lagi seorang mahasiswa yang ingin sekali menjadi seorang penggiat alam. Sudah lama waktu yang ia korbankan dan uang yang ia investasikan untuk bisa menjadi seorang Mapala. Hingga suatu ketika ada proses yang dimana harus ia jalani dan tiba-tiba saja memutuskan untuk hang-out dari acara tersebut bahkan dari organisasi Mapala nya karena desakan Orang Tua. Banyak rumor yang beredar dari mulut ke mulut, bahkan orang yang tidak mengerti membuat celotehan-celotehan sendiri, “Mapala, makan gak makan asal nongkrong” “Mapala, mahasiswa paling lama”, “Mapala, mahasiswa tak punya tata krama”, “Mapala, aliran keras diwadah UKM”dan lain-lain. Menjadikan image tersebut menakutkan bagi orang tua, atau mereka yang ingin masuk Mapala. Memang, menurut sebagian teman itu sebagai salah satu seleksi alamiah bagi seorang anak mami, atau orang yang hanya bergantung pada Ortu. Tapi anggapan-anggapan miring punya akibat lebih fatal untuk keberlangsungan organisasi Mapala tersebut. Mulai dari dipersulitnya pengesahan proposal sampai pada krisisnya regenerasi keanggotaan organisasi Mapala.
Itu hanya sebagian fakta dari banyaknya bentuk diskriminasi yang pernah saya lihat, hingga akhirnya saya tergerak untuk menulisnya dan berharap agar kita semua mau bercermin dan mengoreksi diri masing-masing. Pendidikan Mapala bukan hanya sekedar program kerja, tapi lebih kepada tanggung-jawab dan kepedulian terhadap generasi selanjutnya. Agar nantinya Ia lebih punya kapasitas, tidak dipandang sebelah mata, dan menjadi kebanggaan organisasi, kampus atau sekolahnya.

SUMBER : saudara yang di sebelah :D

Postingan Lama