Rabu, 09 Oktober 2013

ANGGOTA SISPALA OASIS SMK 2 PADANG



DAFTAR NAMA NAMA
 ANGGOTA SISPALA OASIS SMK 2 PADANG
NO
NAMA
NAG
1
Mulyana Arianto
08. 00. 001
2
Septi Maizul
08. 00. 002
3
Feri Mulyadi
08. 00. 003
4
Robil Suhendra
08. 00. 004
5
Rica Nurdin
08. 00. 005
6
Jumia Deswita
08. 00. 006
7
Yulidarmi
08. 00. 007
8
Milmas Vita Sari
08. 00. 008
9
Sri Mulyani
08. 00. 009
10
Lidia Elvia
08. 00. 010
11
Cici Permata Sari
08. 01. 011
12
Hamzah Sabarudin
08. 01. 012
13
Ine Chintia
08. 01. 013
14
Jamaris Abadi
08. 01. 014
15
Maisa Fitri
08. 01. 015
16
Rahma Yani
08. 01. 016
17
Silvia Agustin
08. 01. 017
18
Vera Afrika w.
08. 01. 018
19
Yolanda Saguma
08. 01. 019
20
Rahmat Hatta
08. 01. 020
21
Reski Tega
08. 01. 021
22
Lili Yani
08. 01. 022
23
Atika Ramadhani
08. 01. 023
24
Fani Syafitri
09. 02. 024
25
Putri Mutia
09. 02. 025
26
Revi Yuriani
09. 02. 026
27
Ria Riski Arcan
09. 02. 027
28
Rudi
09. 02. 028
29
Vinda Eka Putri
09. 02. 029
30
Bazea Rahmayuni
10. 03. 030
31
Budhi Setiawan
10. 03. 031
32
Febramananda
10. 03. 032
33
Ilham Ilahi
10. 03. 033
34
Indah Permata Bunda
10. 03. 034
35
Jefrinaldi Saputra
10. 03. 035
36
Ningsih Safitri
10. 03. 036
37
Restu fanyka
10. 03. 037
38
Riski Sundari
10. 03. 038
39
Suci Mardiani
10. 03. 039
40
Susi Susanti
10. 03. 040
41
Tiara Fitria
10. 03. 041
42
Tiara Sari
10. 03. 042
43
Tri Rizki Amelia
10. 03. 043
44
Verawati
10. 03. 044
45
Yeni Ramadhani Putri
10. 03. 045
46
Fatimah Binti Sari
11. 04. 046
47
Nofiri Aryanti
11. 04. 047
48
Novika Sri Wahyuni
11. 04. 048
49
Oktaviani
11. 04. 049
50
Novia Karmila Deni
11. 04. 050
51
Rahman
11. 04. 051
52
Suci Indriani
11. 04. 052
53
Aswar Pramadani
12. 05. 053
54
Deflianto
12. 05. 054
55
Dian Kurnia
12. 05. 055
56
Mutiara Ramadhani
12. 05. 056
57
Nabila Laurenza
12. 05. 057
58
Nola Sesriani
12. 05. 058
59
Trezia Adela
12. 05. 059
60
Ulfa Darmayanti
12. 05. 060
61
Yulistira Syafarni
12. 05. 061

Selasa, 08 Oktober 2013

apa yang kau cari para pendaki


Kurasa mendaki itu cuma butuh tiga hal saja kawan. Duit yang cukup di tangan. Sedikit ketrampilan serta kekuatan. Dan, yang terpenting adalah belas kasihan. Yah, belas kasihan, itu yang paling dibutuhkan oleh seorang petualang. Bukankah karena sebuah belas kasihan Tuhan,  puncak tinggi itu bisa kita gapai dengan tangan? Bukankah karena setitik sifat Rahman-NYA pula kita bisa selamat  pulang, dan kembali berkumpul dengan keluarga?.
Kawan, mendaki itu bukan sebatas menumpuk dokumentasi di situs jejaring pribadi. Bukan pula ajang pembuktian sebagai seorang pencinta alam yang jantan. Jika itu saja yang ada dalam pikiranmu, kurasa kau masih belum memahami esensi dari mendaki. Dari setiap cucuran keringat, disitu ada mutiara hikmat. Dalam setiap perjalanan, disitu pula ada makna pelajaran tentang kehidupan.
Saat kau dirundung gila tenar dan sanjung. Cobalah untuk berdiri di puncak tinggi itu. Lihat kawan, adakah sorak sorai tepuk tangan penonton yang mengitarimu. Adakah spanduk “selamat datang” yang menyambutmu? Mungkinkah pula ada sebuah tropi yang bisa kau angkat tinggi-tinggi sebagai tanda kemenanganmu?
Saat kau di puncak tinggi itu, mungkin saja kau merasa lebih tinggi dari segalanya. Coba tengok di sekelilingmu. Kanan, kiri dan juga  yang ada di atasmu. Lihat, bandingkan dirimu dengan bentang alam yang menghampar di sana. Bayangkan dirimu ada diantaranya, itulah sebenarnya dirimu. Kau tak lebih hanyalah sebuah noktah yang mungkin tak nampak jika ditatap dari kejauhan. Masihkah kau merasa lebih tinggi? Jadi, kenapa kita merasa seakan mampu memegang matahari? Bukankah di atas langit masih ada langit kawan? Tak mungkin  kita mampu menggapai matahari itu. Bahkan untuk menatapnya saja, kau tak akan kuasa oleh silaunya.
Berada di puncak yang paling tinggi, bukan berarti kita telah menjadi pemenang sejati.  Jangan lupa kawan, semakin tinggi tempat kita berdiri, semakin kencang pula angin yang menerpa di kanan kiri. Posisi tinggi dalam kehidupan bukanlah jaminan tidur kita akan menjadi aman sekaligus nyaman. Sebab, bisa jadi ada angin dari luar sana yang akan menerpamu secara bertubi-tubi. Sekencang-kencangnya, tanpa kau sadari dari arah mana datangnya. Bahkan acapkali angin itu mencoba menjatuhkanmu hingga posisi serendah-rendahnya. Tapi, santai saja kawan. Bukan itu yang perlu kamu takuti. Jadikan saja ikhlas dan sabar sebagai tameng  untuk menahan terpaan angin di luaran sana.
Kuhanya takut  hembusan angin kecil dalam diri yang justru akan menggoyahkan kaki penopang kita berdiri. Tiupan angin dalam hati bernama sombong, riya’ dan dengki, itulah yang harus kita waspadai. Jangan biarkan tiupan itu semakin berhembus, menerobos dinding hati ini. Sebab, jika itu menjadi kebiasaan, bisa jadi akan menjadi sindrom saat usia senja nanti. Saat rambutmu telah dipenuhi uban, kau masih saja sibuk berebut pujian. Saat keriput mulai membalut kulitmu, kau pun masih saja bernafsu memburu jempol-jempol itu.
Kawan, bukan berarti aku antipati pada kata-kata mendaki. sebab, hingga hari ini petualangan itu masih kusenangi. Mungkin saja aku sedang jemu untuk melakukannya. Seperti halnya kejemuanku pada dunia abstrak yang sedang kulakoni lewat layar mini ini. Mungkin ada baiknya kita berbincang tentang hal yang lain saja. Sesuatu yang lebih pencinta alam tentunya. Tentang periculum in mora. Atau tentang alam raya yang butuh sentuhan sayang dari tangan kita. Kenapa kita enggan perbincangkan  jernih sungai yang sekarang berubah bak comberan? Kenapa kita tak berdiskusi lagi tentang burung-burung yang enggan bernyanyi kala pagi hari?


Mungkin lain waktu kubiarkan ransel gunung itu kembali memijat lembut punggungku. Mungkin lain hari aku akan kembali mendaki sepertimu. Tapi, tentu saja bukan bermaksud untuk menjadi yang lebih tinggi, atau mungkin meninggi. Sebab, mendaki itu kulakoni ‘tuk sekedar mengasorkan diri.
Salam Lestari !
Note : Hari ini lantunan Murattal “Al-Baqarah” Ust. Abu Usamah terasa lebih merdu dibanding kicauan sekerumunan burung di semak belukar itu

sumber : http://gispala.wordpress.com

Selasa, 01 Oktober 2013

pejuang alam pulang

asalammualaikum . salam rimba
lestariiiiiiii
sispala oasis kehilangan sosok yang begitu penting di dalam keluarga sispala oasis. rizky tega (01) nama nya . sispala oasis mendapatkan  ujian dari sang maha kuasa dengan memanggil seorang risky tega. kejadian bermula saat bg iki (panggilan penulis denga risky tega 01) melaksanakan tugas dari mapala=> sedikit info riesky tega adalah anggota mapala unand ( mapala universitas andalas padang) yang melakukan survey lapangan sebelum pendidikan dasar di mulai. 
ada pun kronologis kejadian nya kunjungi website mapala unand  di sana sangat jelas  kejadian nya bukan karena arum jeran. Hal yang di sayangkan bahwa mereka pergi berpasang pasangan itu sungguh menjadi fitnah bagi mereka.
Sosok seorang risky tega merupakan hal terpenting dalam sispala oasis selain yang tak kenal lela untuk membimbing kami adik2 nya dia selalu mejadi sosok penengah kebanyakan permasalahan yang di hadapi oleh keluarga sispala oasis smk negeri 2 padang.
Tiada yang dapat kuasa tuhan kami disini bisa mendoakan mu risky tega dan selalu mengenang mu. SEMOGA TUHAN SENAN TIASA BERSAMA MU UNTUK MEMELUK
Dan insa allah semua anggota sispala oasis akan mengadakan doa bersama untuk mendokan saudara kami REZKI TEGA HENTELMI 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda