Kamis, 11 Agustus 2011

7 Ekstrim Panjat Tebing Dan Mountaineering Foto oleh Robert Bosch


Lebih dari 37 tahun dan tujuh benua, Robert Bosch telah melakukan perjalanan ke beberapa puncak tertinggi di Bumi sebagai salah satu fotografer terkemuka di dunia gunung. Berbagi dalam uji pendaki gunung 'dan pengerahan tenaga dengan skala ketinggian, Robert telah menangkap gambar yang menakjubkan yang membayar upeti kepada pendaki dan alam.
Pendaki memanjat Annatina Schultz Kejatuhan pada Klettern di Meiringen, Swiss 
Gambar: ROBERT BOSCH / BARCROFT 


Robert, 57, telah melakukan perjalanan ke puncak Everest, pegunungan Alpen es Eropa, dan bahkan limbah gurun beku Antartika, dalam mengejar petualangan dan tembakan yang sempurna. 
Pendaki Pesche Wuthrich di dinding 800ft mendaki tinggi buatan di bendungan di DIGA Luzzone di Tessin, Swiss 
Gambar: ROBERT BOSCH / BARCROFT 

"Ueli (di atas) adalah pemanjat yang indah, sebuah gunung yang luar biasa, kita mendaki bersama-sama banyak mencari yang ditembak sempurna yang meringkas kekuatan dan keseimbangan dan kebugaran yang pendaki butuhkan," jelas Robert. "Kami pergi keluar dari cara kami untuk membuat foto sesulit mungkin, seperti di es memanjat rute kami di Graubünden di Swiss dan Berner Oberland, yang juga di Swiss. Kemampuan-Nya yang gratis mendaki adalah apa yang paling mengesankan saya, dia adalah teman baik dan itu adalah kenikmatan untuk bekerja dengan dia " 
Gambar: ROBERT BOSCH / BARCROFT 

Memotret hebat dunia pendakian seperti Steck Ueli 34 tahun, Robert telah menyaksikan keterampilan selama es berbahaya naik di Swiss 
Gambar: ROBERT BOSCH / BARCROFT 
i n hampir 40 tahun mendaki Robert telah menutup beberapa mencukur."Saya bekerja di Pegunungan Alpen Swiss bekerja pada fotografi saya, tergantung dari tali dan menggunakan crampon saya menggali ke permukaan batu untuk menyeimbangkan diri," kata Robert. "Sayangnya saya punya selang sesaat keseimbangan dan saya berbalik 180 derajat terbalik untuk menghadapi penurunan 3.000 kaki belaka ... 
Pendaki Pesche Wuthrich memanjat di perbatasan antara Italia dan Swiss 
Gambar: ROBERT BOSCH / BARCROFT 

Sebagai pemanjat berpengalaman dan berpengalaman, Robert memiliki skala lebih dari 100 puncak berbeda di seluruh dunia. "Gairah saya lahir ketika orang tua saya akan membawa saya untuk mengunjungi Pegunungan Alpen ketika saya masih kecil," kata Robert, yang tinggal dekat Zurich di Swiss. "Mendaki saya menjadi serius ketika saya menekan dua puluhan, saya harus tahu panduan yang bekerja di pegunungan di pegunungan Alpen seperti Mont Blanc." 
Robert Bosch mengambil gambar di dinding 800ft mendaki tinggi buatan di bendungan di DIGA Luzzone di Tessin, Swiss 
Gambar: ROBERT BOSCH / BARCROFT 

"Pendakian Gunung Everest relatif mudah untuk pendaki berpengalaman," jelas Robert. "Saya sebelumnya mencoba untuk naik rute punggungan barat sangat sulit namun telah mengalahkan saya Jadi pada tahun 2001 saya berhasil mendaki sisi utara,. Tapi saya harus memberitahu Anda bahwa untuk mendaki Everest sampai rute komersial yang populer mudah. ​​Setiap orang perjalanan ke atas dan berpikir mereka dapat menulis buku tentang itu, tapi mayoritas orang-orang ini tidak pendaki gunung, mereka mengandalkan karya luar biasa dari sherpa di Nepal. Hal ini tidak semua yang retak hingga menjadi " 
Gambar: ROBERT BOSCH / BARCROFT Sumbe
r

Rabu, 10 Agustus 2011

Pengetahuan Medan Dan Pengenalan Peta Kompas pert II


4.Merencanakan rute
1. Pilihlah jalur perjalanan yang mudah dengan memperhatikan sistim kontur.
2. Bayangkan kemiringan lereng dengan memperhatikan kerapatan kontur (makin rapat makin terjal).
3. Hitung jarak datar (perhatikan kemiringan lereng).
4. Hitung waktu tempuh dengan prinsip :
- jalan datar 1 jam untuk kemiringan lebih 4 km
- kemiringan 1 jam tiap kenaikkan 100 m.
Pembagian pengajaran di atas berdasarkan kebutuhan seseorang di alam bebas. Idealnya, dalam melakukan kegiatan di alam bebas seseorang itu dapat menentukan arah, tujuan yang akan dicapai. Dan untuk ini ia butuh mengkomunikasikan lokasi dengan pihak lain. Bisa saja ini dilakukan dengan misalnya : “Saya berada di sebelah pohon karet yang tingginya kira-kira lima kali badan saya”. Cara seperti ini tidak akurat dan juga tidak praktis, salah satu sarana yang dapat dipakai untuk ketepatan komunikasi adalah peta.
Pengetahuan tentang grid point ini, memberikan cara penyampaian yang paling mudah dan akurat. Dan cara penyampaian seperti ini mutlak perlu untuk melakukan Search and Rescue.
Perjalanan di alam bebas, tentu memerlukan juga petunjuk, sama seperti jika anda berada di kota dan mengamati tanda lalu lintas. Petunjuk ini bisa didapatkan pada peta topografi, foto udara, atau laporan perjalanan yang telah lalu. Untuk ini, ditekankan pada peta topografi, karena yang satu ini memberikan data yang paling akurat dan juga paling mungkin didapat.Foto udara bukan merupakan sesuatu yang umum di negara kita, jadi kurang tepat untuk panjang lebar membahas ini walau bagi para pelancong alam bebas di Eropa dan Amerika Utara, hal ini umum dan lebih tepat karena medan salju yang mereka miliki tidak dipetakan secara kontur.
Untuk pengenalan peta topografi, disajikan contohnya serta penekanan pada pemahaman akan simbol yang mewakili benda-benda asli di alam. Pemahaman ini akan dapat membuka kegunaan peta sebagai sumber informasi dan bahkan penentuan rute perjalanan.
Pemakaian peta pada kenyataannya tidak seperti pemakaian dalam ilmu medan yang sering diberikan oleh pelatih dari militer. Tidak setiap saat, dalam perjalanan dengan peta, kompas, dan altimeter (alat pengukur ketinggian), semua perlengkapan ini dikeluarkan dan dipakai. Lebih banyak seseorang itu melakukan pengamatan awal pada peta untuk memahami medan yang akan dihadapi.
Pemahaman akan bentuk wilayah yang akan dilalui, dapat membantu untuk menentukan lokasi serta tujuan anda. Contohnya, dari peta dapat dilihat bahwa di utara anda akan ada sungai besar yang melintang di perjalanan, di satu sisi ada desa, di sisi lain ada bukit. Jika di perjalanan nanti anda berada di tepi sungai, maka anda tahu arah untuk pulang, berarti ke selatan. Menuju desa berarti menyusuri satu sisi. Menuju bukit menyusuri sisi lainnya. Ini contoh sederhana sekali.
Kenyataan alam itu tidak sesederhana contoh diatas. Banyak sekali bentuk alam , dan bahkan lebih banyak yang tidak tergambar di peta skala 1:50.000 yang umumnya kita pakai. Untuk mendaki gunung beberapa kenampakan perlu dipahami di antaranya ; punggungan, lembah, sungai sadel, pass, dan col.
Tetapi ini tidak berarti bahwa kompas ,altimeter serta peta tidak perlu terpakai, dan cukup ditengok bila berangkat dan kemudian ditinggalkan. Pemakaian kompas lebih banyak untuk menentukan posisi awal kita, caranya adalah dengan cross bearing.
Pertama , dalam perjalanan tentu kita akan memasuki wilayah yang tergambar pada peta. Tepatnya ada titik dimana kita berada biasanya sulit ditentukan. Lebih mudah ditentukan bila kita berada di suatu desa dan nama desa itu ada pada peta. Tetapi jika bukan daerah pemukiman, maka pemakaian peta, altimeter, sangat berperan untuk menentukan posisi.
Perjalanan, terutama pendakian gunung lebih sering menggunakan altimeter. Setelah posisi kita sendiri diketahui dan perjalanan yang akan ditempuh telah ditentukan, maka untuk mengecek posisi saat terakhir adalah dengan mencocokkan ketinggian, mengurut jalan kita pada peta, dan melihat garis ketinggian atau ketinggian yang sama. Merencanakan rute sendiri bukan hanya dari peta topografi belaka, bisa juga kita menggunakan laporan yang telah/ pernah dibuat atau bahkan dari pengalaman sebelumnya. Perlu juga pemahaman ini melalui foto, tetapi ini lebih banyak digunakan untuk medan tebing batu atau gunung salju dan daerah yang belum dipetakan, atau belum secara detail (skala besar ), misalnya Irian Jaya.
Pengetahuan medan dan peta kompas ini memiliki keterbatasan hanya pada pengertian medan gunung, lebih terinci lagi pada gunung yang terdapat di daerah rawa, dan dataran tertutup hutan, seperti misalnya Amazon di Brazil. Untuk ini perlu lebih mendalam lagi dengan bacaan atau referensi lain, diskusi atau presentasi hasil perjalanan yang biasanya juga ada uraian tentang medannya.
Jika hanya sebatas gunung, pengetahuan yang disajikan ini dapat menjadi dasar bagi semua orientasi gunung. Variasi pada kenampakan alamnya bisa jauh berbeda pada medan salju, tapi kenampakan utamanya seperti saddle, col, pass, masih bisa terlihat. Sedangkan untuk detailnya harus menambah pengetahuan dari tulisan geomorfologi glasial.

MENGGAMBAR PENAMPANG
Dalam banyak kasus, penggambaran penampang melintang (cross section) dari rute perjalanan mempunyai manfaat yang cukup besar, terutama untuk daerah yang belum pernah dikunjungi.
Penggambaran penampang melintang bertujuan untuk memperlihatkan bentuk topografi dalam tiap segmen. Segmen disini diartikan sebagai titik ketinggian dan jarak. Pada ketinggian berapa keadaan topografi berlereng landai, terjal sampai sangat terjal dan beberapa derajat kemiringan lereng tiap segmen adalah salah satu contoh yang bisa diketahui dari penampang melintang. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggambar penampang adalah:
1. Skala Peta
Semakin kecil skala peta yang digunakan (angka penyebut skala besar ), detil relif yang ditampilkan semakin kurang dalam artian banyak kenampakan yang telah mengalami generalisasi.
2. Skala Vertikal (ketinggian) dan horizontal (jarak sebenarnya) Harus benar-benar proporsional guna mendapatkan penampang yang ideal.
3. Tidak boleh mengabaikan setiap detail medan, seperti adanya lembah,sungai, sadel, puncak bukit/gunung.
Metode penggambaran:
1. Tarik garis transis yang dikehendaki diatas peta, bisa berupa garis lurus maupun mengikuti rute perjalanan
2. Beri tanda (huruf atau angka) pada titik awal dan akhir
3. Buat grafik pada milimeter blok.untuk sumbu x dipakai sekala horizontal dan sumbu y sekala vertikal.
4. Ukur pada peta jarak sebenarnya (jarak pada peta x angka penyebut skala peta) dan ketinggian (beda tinggi) pada jarak yang diukur tadi.
5. Pindahkan setiap angka beda tinggi dan jarak sebenarnya tadi sebanyak-banyaknya pada grafik.
6. Hubungkan setiap titik pada grafik (lihat gambar)
gambar 7. menggambar penampang

Pengetahuan Medan Dan Pengenalan Peta Kompas pert I


Pengetahuan Medan Dan Pengenalan Peta Kompas
Pengetahuan medan dan peta kompas diberikan sebagai penunjang dalam melaksanakan kegiatan di alam bebas. Pengetahuan ini mutlak diketahui oleh search rescue unit.
Dalam tulisan ini penyajiannya diberikan dalam 4 bagian, yaitu :
1. 4-6 angka grid pada peta dan simbol peta.
2. Pengetahuan bentuk dan nama kenampakan alam dan hubungannya dalam gambar di peta.
3. Bagaimana meletakan peta yang sesuai, mengambil bearing dengan sudut deviasinya, menentukan posisi dengan cross bearing.
4. Merencanakan rute; menentukan jarak dan waktu tempuh melalui peta.
1. Menentukan Posisi dan Simbol di Peta
1.1. Menentukan Posisi
Penunjukan posisi pada peta dengan 4-6 angka; lokasi dapat ditunjukkan dengan koordinat geografi, misalnya lintang selatan dan bujur timur. Ia dapat ditunjukkan dengan memakai grid.
1.2 Simbol peta
Peta merupakan penggambaran alam secara simbolik. Karena itu, sebelum menggunakan peta kita harus memahami simbol peta yang terletak di legenda. Peta yang dipergunakan para pendaki umumnya adalah peta Topografi dengan simbol sebagai berikut (halaman sebelah).
Biasanya peta topografi yang ada sekarang dibuat beberapa puluh tahun yang lalu, sehingga ada kemungkinan perubahan penunjuk arah sebagai akibat pergeseran magnet bumi. Untuk itu harus dilakukan perhitungan deviasi pada peta .
Antara Utara sebenarnya dan Utara Magnetik disebut deklinasi magnetik bumi, yang besarnya berubah setiap saat. Untuk daerah tropik perubahan tersebut sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Tetapi untuk peta daerah sub tropik sampai daerah kutub, perhitungan deviasi peta dijelaskan lebih lanjut dalam menentukan posisi.
2. Pengetahuan bentuk dan nama kenampakan alam dan hubungannya dengan peta.
2.1 Ketinggian
Untuk menggambarkan ketinggian, terdapat dua cara pada peta:
1.Garis kontur
2.Titik ketinggian
gambar 2. garis kontur dan titik ketinggian
2.2. Kontur
Merupakan garis khayal dengan ketinggian yang sama. Untuk membayangkan kita harus dapat membayangkan bentuk 3 dimensi alam dari suatu kontur.
gambar 3. penggambaran kontur
2.3 Bentuk bentuk alam dan gambar dipeta
Lembah dan punggungan
gambar 4. lembah ,punggungan dan perbukitan yang memanjang
Jalan menuju puncak umumnya berada diatas punggung (lihat garis titik-titik) sedangkan disisinya terdapat lembah yang umumnya berisi sungai( lihat garis gelap). Perbukitan yang memanjang di Jawa Barat, umumnya disebut ‘pasir’ seperti misalnya: Pasir Pangrango, Pasir Oray, Pasir Datar,dll.
Plateau
Daerah dataran tinggi yang luas
gambar 5. plateau
Col
Daerah rendah antara dua buah ketinggian.
Saddle
Hampir sama dengan col, tetapi daerah rendahnya luas dan ketinggian yang mengapit tidak terlalu tinggi.
gambar 6. saddle dan pass
Pass
Celah memenjang yang membelah suatu daerah ketinggian.
3. Menentukan posisi dan cross bearing.
3.1 Hitung deviasi pada peta:
A=B+(CxD)
A: Deklinasi magnetis pada saat tertentu.
B: Deklinasi pada tahun pembuatan peta.
C: Selisih tahun pembuatan.
D: Variasi magnetis.
Contoh:
Diketahui bahwa :
- Deklinasi magnetis tahun 1943 (pada saat peta dibuat) adalah: 0° 30′(=B).
- Variasi magnet pertahun: 2′(=D)
Pertanyaan:
Berapa deviasi bila pada peta tersebut digunakan pada tahun 1988?(=A)
Perhitungannya:
A = B + (CxD)
= 0° 30′ + {(88-43)x 2′}
= 0° 30′ + 90′
=120′
=2º0′
3.2. Mengukur sudut
a. Mengukur dari peta :
Sudut peta – deviasi (jika deviasi keTimur)= sudut kompas.
Sudut peta + deviasi (jika deviasi ke Barat)=sudut kompas.
b. Mengukur dari kompas :
Deviasi Timur: sudut kompas + deviasi = sudut peta.
Deviasi Barat sudut kompas – sudut = sudut peta.
3.3. Setelah mengukur utara kompas, sesuaikan garis bujur dengan utara kompas kurang lebih deviasi.
3.4. Membuat cross bearing
1. Hitung sudut dari dua kenampakan alam atau lebih yang dapat kita kenali di alam dan di peta.
2. Buat garis sudut dengan menghitung deviasi sehingga menjadi sudut peta pada kertas transparan
3. Letakkan di atas peta sesuai dengan kedudukannya.
4. Tumpuklah.

Pada sekitar tahun 1492 sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m) di kawasan Vercors Massif. Waktu itu belumlah terlalu jelas apakah mereka ini tergolong sebagai para pendaki gunung yang pertama. Namun beberapa dekade kemudian orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di pegunungan Alpen adalah para pemburu chamois (sejenis kambing gunung). Mungkin saja mereka ini para pemburu yang mendaki gunung, namun inilah pendakian gunung tertua yang pernah dicatat dalam sejarah. Pada sekitar tahun 1786 puncak gunung tertinggi pertama yang dapat dicapai manusia adalah puncak Mont Blanc (4807 m) di Perancis. Lalu pada tahun 1852 puncak Everest setinggi 8840 meter diketemukan. Orang-orang Nepal menyebutnya Sagarmatha atau menurut orang Tibet menyebutnya Chomolungma. Puncak Everest berhasil dicapai manusia pada tahun 1953 melalui kerjasama Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung dalam suatu ekspedisi Inggris. Sejak saat itulah pendakian ke atap-atap dunia semakin ramai.
Di Indonesia sendiri sejarah pendakian gunung dimulai sejak tahun 1623 saat Yan Carstensz menemukan “Pegunungan sangat tinggi di beberapa tempat tertutup salju” di Papua. Nama orang Eropa ini dikemudian hari digunakan untuk salah satu gunung di gugusan Pegunungan Jaya Wijaya yaitu Puncak Carstensz. Pada tanggal 18 Oktober 1953 di Indonesia berdiri sebuah perkumpulan yang diberi nama “Perkumpulan Pentjinta Alam” (PPA). PPA merupakan perkumpulan hobby yang dimaksudkan sebagai suatu kegemaran positif terlepas dari sifat maniak yang semata-mata ingin melepaskan nafsunya dalam corak negatif. Perkumpulan ini bertujuan mengisi kemerdekaan dengan kecintaan terhadap negeri ini selepas masa revolusi yang diwujudkan dengan mencintai alamnya serta memperluas dan mempertinggi rasa cinta terhadap alam seisinya dalam kalangan anggotanya dan masyarakat umumnya. Awibowo, salah satu pendiri perkumpulan ini mengusulkan istilah pecinta alam karena cinta lebih dalam maknanya daripada gemar/suka yang mengandung makna eksploitasi belaka, tapi cinta mengandung makna mengabdi.”Bukankah kita dituntut untuk mengabdi kepada negeri ini ?.” Satu kegiatan besar yang pernah diadakan PPA adalah pameran tahun 1954 dalam rangka ulang tahun kota Jogja, mereka membuat taman dan memamerkan foto kegiatan. Mereka juga sempat merenovasi Argodumilah (tempat melihat pemandang di desa Patuk) tepat di jalan masuk Kabupaten Gunung Kidul, Jogjakarta. PPA juga sempat menerbitkan majalah “Pecintja Alam” yang terbit bulanan. Namun sayang perkumpulan ini tidak berumur lama, penyebabnya antara lain faktor pergolakan politik dan suasana yang belum terlalu mendukung hingga akhirnya pada tahun 1960 PPA dibubarkan.
Sejarah pecinta alam kampus di Indonesia dimula pada era tahun 1960-1970 an. Pada saat itu kegiatan politik praktis mahasiswa dibatasi dengan dikeluarkannya SK 028/3/1978 tentang Pembekuan Total Kegiatan Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa yang melahirkan Konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Gagasan mula-mula pendirian Pecinta Alam kampus dikemukakan oleh Soe Hok Gie pada suatu sore, 8 Nopember 1964 ketika mahasiswa FSUI sedang beristirahat setelah bekerja bakti di TMP Kalibata. Sebetulnya gagasan ini, seperti yang dikemukakan Soe Hok Gie sendiri, diilhami oleh organisasi pecinta alam yang didirikan oleh beberapa orang mahasiswa FSUI pada tanggal 19 Agustus 1964 di Puncak Gunung Pangrango. Organisasi yang bernama Ikatan Pencinta Alam Mandalawangi itu keanggotaannya tidak hanya terbatas di kalangan mahasiswa saja. Semua yang berminat dapat menjadi anggota setelah melalui seleksi yang ketat, namun sayangnya organisasi ini mati pada usianya yang kedua. Setelah berbincang – bincang selama kurang lebih satu jam semua yang hadir antara lain : Soe Hok Gie, Maulana, Koy Gandasuteja, Ratnaesih (kemudian menjadi Ny. Maulana), Edhi Wuryantoro, Asminur Sofyan Udin, D armatin Suryadi, Judi Hidayat Sutarnadi, Wahjono, Endang Puspita, Rahayu,Sutiarti (kemudian menjadi Ny. Judi Hidayat) sepakat untuk membicarakan gagasan tadi pada keesokan harinya di FSUI.

Pada pertemuan kedua yang diadakan di Unit III bawah gedung FSUI Rawamangun, di depan ruang perpustakaan. Hadir pada saat itu semua yang sudah disebut ditambah Herman O. Lantang yang saat itu menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FSUI. Pada saat itu dicetuskan nama organisasi yang akan lahir itu
IMPALA singkatan dari Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam. Setelah pendapat ditampung akhirnya diputuskan nama organisasi yang akan lahir itu IMPALA. Kemudian pembicaraan dilanjutkan dengan membahas kapan dan dimana IMPALA akan diresmikan. Akan tetapi setelah bertukar pikiran dengan Pembantu Dekan III bidang Mahalum yaitu Drs. Soemadio dan Drs. Moendardjito yang ternyata juga menaruh minat terhadap organisasi tersebut dan menyarankan agar merubah nama IMPALA menjadi MAPALA PRAJNAPARAMITA. Nama ini diberikan oleh Bpk. Moendardjito karena menggangap nama IMPALA terlalu borjuis. MAPALA merupakan singkatan dari Mahasiswa Pecinta Alam, selain itu MAPALA juga memiliki arti berbuah atau berhasil. Dan PRAJNAPARAMITA berarti dewi pengetahuan. Jadi dengan menggunakan nama ini diharapkan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh anggotanya akan selalu berhasil berkat perlindungan dewi pengetahuan. Ide pencetusan pada saat itu memang didasari oleh faktor politis selain dari hobi individual pengikutnya, dimaksudkan juga untuk mewadahi para mahasiswa yang sudah muak dengan organisasi mahasiswa lain yang sangat berbau politik dan perkembangannya mempunyai iklim yang tidak sedap dalam hubungannya antar organisasi. Sampai akhirnya diresmikanlah organisasi ini pada tanggal 11 desember 1964 dengan peserta mencapai lebih dari 30 orang.
Dalam tulisannya di Bara Eka (13 Maret 1966), Soe Hok Gie mengatakan bahwa, “Tujuan Mapala ini adalah mencoba untuk membangunkan kembali idealisme di kalangan mahasiswa untuk secara jujur dan benar-benar mencintai alam, tanah air, rakyat dan almamaternya. Mereka adalah sekelompok mahasiswa yang tidak percaya bahwa patriotisme dapat ditanamkan hanya melalui slogan-slogan dan jendela-jendela mobil. Mereka percaya bahwa dengan mengenal rakyat dan tanah air Indonesia secara menyeluruh barulah seseorang dapat menjadi patriot-patriot yang baik.” Para mahasiswa itu diawali dengan berdirinya Mapala Universitas Indonesia, mencoba menghargai dan menghormati alam dengan menapaki alam mulai dari lautan hingga ke puncak-puncak gunung. Mencoba mencari makna akan hidup yang sebenarnya dan mencoba membuat sejarah bahwa manusia dan alam sekitar mempunyai kaitan yang erat. Sejak saat itulah Pecinta Alam merasuk tak hanya di kampus melainkan ke sekolah-sekolah, ke bilik-bilik rumah ibadah, lorong-lorong bahkan ke dalam jiwa-jiwa bebas yang merindukan pelukan sang alam


Peringatan Hari Bumi 2011 MPALH UNP

Pada tahun 1969 seorang senator Ameraika Serikat, Gaylord Nelson, menggagas peringatan hari bumi. Gagasan ini muncul seiring dengan pemikiran Nelson tentang pentingnya mengangkat isu-isu lingkungan ke dunia internasional. Nelson yang juga seorang pelajar ini memandang bahwa isu lingkungan perlu untuk dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan.

Akhirnya pada tanggal 22 April 1970, hari bumi diperingati untuk pertama kalinya di Amerika Serikat. Ternyata kegiatan ini mendapat sambutan yang menggembirakan dari masyarakat sipil. Majalah TIME memperkirakan bahwa sekitar 20 juta orang turun ke jalan untuk memperingati hari bumi untuk pertama kalinya ini.


Gaylord Nelson, Penggagas Hari Bumi

Naaaaahhh,,,,sehubungan dengan peringatan hari bumi ini, MPALH UNP yang merupakan suatu organisasi yang bergerak di bidang kepecintaalaman dan lingkungan hidup juga ikut untuk memperingati Hari Bumi. Berbagai kegiatan yang berbeda dilaksanakan setiap tahunnya untuk memperingati "hari" bumi.

Tahun ini MPALH UNP mengangkat kegiatan dengan tema "Kampanye Sepeda Keliling Sumatera Barat". Acara yang memakan waktu sekitar lima hari ini diselenggarakan oleh MPALH UNP dalam rangka ikut menunjukkan keprihatinan akan nasib bumi kita yang cuma satu ini. Selain itu kapanye sepeda ini juga bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk mengurangi emisi carbon dengan cara mengurangi pemakaian kendaraan bermotor.

Suasana Pembukaan Kampanye Sepeda

Kampanye sepeda dengan jalur Padang-Pariaman-Padang Pariaman-Agam-Bukittinggi-Padang panjang-Tanah Datar-Kota Solok-Solok dan finish di Kota Padang ini berjalan dengan lancar. Dekeu, Faldi, Akank, Didi dan Tommy (atlet) dilepas oleh pembantu rektor III MPALH UNP di depan Rektorat UNP.

Selain ke empat atlet "tukang genjot" sepeda yang berlima di atas, masih ada beberapa orang yang jadi team pendukung dan operasioan lainnya yang ikut mengawal perjalanan ini. Setelah menghabiskan waktu selama sekitar lima hari di perjalanan, team kembali ke sekretariat MPALH UNP dengan selamat (dan sedikit sakit-sakit kaki,,,heheheheh,,,kaliang2 lo tu)

Atlet kampanye sepeda MPALH UNP

Apa yang diharapkan dari kegiatan ini ???
Sebenarnya hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah kesadaran masyarakat di sepanjang jalur akan pentingnya isu lingkungsn seperti yang diungkapkan oleh Gaylord Nelson 31 tahun yang lalu. Setidaknya timbul sedikit kepedulian di pikiran masyarakat,,,,Ini Lho,,,bumi kita tuh sedang terancam,,,

Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat sadar akan pentingnya menjaga lingkungan dan menjaga bumi yang (lagi-lagi) cuma sebiji ini.
Oooopss,,,
Selamat untuk team, panitia kegiatan dan MPALH UNP yang telah mengadakan acara ini...
LESTARI !!!! untuk bumi kita (sekali lagi) yang cuma satu,,,,

Sebuah Cerita Perjalanan Pendakian ke Gunung Raung



Puncak sejati Gunung Raung terletak diantara kabupaten bayuwangi dan jember, 13 jam waktu perjalanan jika ditempuh dengan kereta api dari kota jogjakarta.
Pada tanggal 04 0ktober 2010 Tim pendakian Gunung Raung Mayapala memulai perjalanan pendakian ke Gunung Raung. Perjalanan dimulai dari sekretariat Mayapala di STMIK AMIKOM Yogyakarta menuju stasiun Lempuyangan, kemudian dilanjutkan dengan kereta menuju Stasiun Kali Baru Bayuwangi. Pada pukul  20.50 tim tiba di stasion Kali Baru Banyuwangi dan langsung melajutkan perjalanan menuju rumah pak Suto (basecamp).
Pada jam 13.30 (5/10) Tim memulai pendakian ke pos 1. Jalur ke Pos 1 adalah jalan yang sering digunakan warga untuk berkebun oleh karena itu banyak sepeda motor lalu lalang melintasi kami. Pos 1 adalah kawasan kebun kopi milik warga setempat dan sebelah baratnya ada sungai yang jernih yang mengalir yang air bisa digunakan untuk segala keperluan.

Tim Pendakian Gunung Raung Mayapala bersama Pak Suto
Tim Pendakian Gunung Raung Mayapala bersama Pak Suto
Pada Jam 10.10 (6/10) tim berangkat menuju pos 2, pada awal perjalanan dari pos satu sepanjang perjalanan masih berupa tanaman kopi milik warga kemudian banyak rintangan yang di temui diantaranya vegetasi yang rapat, banyak pohon-pohon besar yang tumbang, pacat, duri-duri dari pohon rotan yang selalu menghiasi jalur pendakian. Jam 17.15 setelah pendakian yang melelahkan tim pun tiba di pos 2. Di pos 2 banyak terdapak jirigen yang sudah dipotong untuk menadah air hujan tapi semuanya kosong karena pada saat itu hujan tidak turun.
Tim Pendakian Gunung Raung Mayapala saat melepas lelah
Tim Pendakian Gunung Raung Mayapala saat melepas lelah
Pada jam 09.30 (7/10) pendakian pun dilanjutkan menuju pos 3. Jalur bertambah semakin sulit karena sepanjang jalan tim masih menjumpai pacat dan tanaman berduri (arbe), hampir dari sebagian tim ada yang tangan nya berdarah bahkan ada cover ransel yang tersobek karena duri tanaman arbe dan ada cerita yang lucu, duri sempat masuk ke hidung salah satu tim dan ada juga yang terkait di rambut salah seorang karena panjangnya rambut. Selain itu curah hujan di jalur pendakian sangat tinggi sehingga jalur sangat licin untuk dilalui. Jam 10.50 tim baru sampai di camp 3 yang merupakan tempat istirahat sementara antara pos 2 dan pos 3.
Jalur ke Gunung Raung setelah pos 3
Jalur ke Gunung Raung setelah pos 3
Disepanjang perjalanan banyak terdapat botol-botol yang sengaja digunakan untuk menampung air hujan sehingga setiap ada pendaki yang melalui jalur tersebut bisa memanfaatkan air hujan yang sudah terkumpul di botol. Jalur ini merupakan jalur yang tidak terdapat mata air sehingga setiap pendaki harus meminimalisir pemakaian air minum bahkan selama perjalanan tim hanya diperbolehkan meminum ½ liter per orang.
Kondisi jalur semakin sulit dan berbahaya karena kanan dan kiri jalur berupa jurang yang terjal, hujan pun mulai turun akhirnya pada jam  17.00 tim sampai di pos 3. Dari camp 3 menuju pos 3 ada sebagian jalur tertutupi tanaman sangat rapat untuk melewati nya harus merayap bahkan karena sulitnya jalur ada sebagian tim yang tiba dipos 3 ketika gelap dan harus menggunakan senter selisih dengan tim yang lain lumayan lama mencapai 1 jam, tapi semuanya mencapai pos 3 dengan penuh semangat.
Pada hari selanjutnya (08/10) cuaca tidak mendukung untuk melanjutkan perjalanan, hujan rintik-rintik terus membasahi tenda dan demi keselamatan atau hal yang tidak diinginkan maka tim menunggu hingga hujan benar-benar reda. Akhirnya pada jam 11.10 setelah hujan reda dan melakukan persiapan tim melanjutkan menuju pos 4 dengan harapan tanpa kendala apapun.
Pada saat perjalanan menuju pos 4 lebih kurangnya 45 menit perjalanan pada jam 12.10 dari pos 3 salah seorang tim yang bertugas sebagai pembuka jalur dikagetkan dengan penemuan sesosok jenazah, Salah seorang dari tim memberi sinyal tanda bahaya dan semua anggota tim berkumpul, setelah semua berkumpul tim memutuskan untuk menghentikan perjalanan dan misi pun berubah menjadi evakuasi jenazah. Tim menyebar melakukan tugas masing-masing sebagian melakukan indentifakasi terhadap jenazah dengan mengumpulkan data-d ata yang ada, karena sudah diputuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan sebagian lagi mencari tempat untuk membuat tenda karena letak jenazah di jalur terpaksa tenda didirikan di dekat jenazah yang kebetulan posisi tanahnya sangat miring bahkan kami harus meratakan sebagian tanah.
Hasil identifikasi
Hasil identifikasi
Setelah melakukan indentifaksi terhadap jenazah yang ditemukan yang secara kebutulan jenazah membawa identias lengkap seperti KTP, jenazah langsung di tutup dengan hammock salah seorang tim untuk melindungi jenazah dari hal yang tidak diinginkan. Semuanya dilakukan dengan cepat dan hati-hati.
Sebagian tim masih meratakan tanah untuk membuat tenda dan sebagian lagi malakukan E-call (emergency call) dengan masuk ke frekuensi radio untuk mencari informasi tim SAR terdekat. Tim juga meminta bantuan ke Basecamp (pak sutoe) dan salah seorang yang ada di sekretariat MAYAPALA STMIK-AMIKOM JOGJAKARTA untuk meminta informasi tim SAR yang bisa dihubungi. Tim menggunakan 2 alat komunikasi (hp dan ht) untuk memperlancar informasi dan bantuan.
Akhirnya  tim berhasil mendapatkan frekuensi emergency setempat (kalibaru bayuwangi). Setelah beberapa rangkaian hal dilakukan termasuk memberi data jenazah dan jumlah serta kondisi tim pendakian kepada pihak terkait, akhirnya tim mendapat informasi bahwa eavakuasi jenazah akan dilakukan besok hari maka tim juga berkomitmen menunggu jenazah hingga tim evakuasi datang.
(9/10) Sambil menyiapkan sarapan Pagi, kami terus melakukan komunikasi hingga dapat informasi bahwa yang akan melakukan evakuasi dari 3 tim diantaranya penduduk Kali Baru, SAR gabungan Jember, Banyuwangi yang dikoordinir oleh pak donky dan datok dari ketua tim  SAR OPA Jember. Kami sudah melakukan packing semua barang-barang kecuali tenda untuk kondisi darurat sambil menunggu tim evakuasi datang. Pada jam 15.00 kami dapat kabar dari frekuensi emergency (838) bahwa evakuasi sementara di hentikan karena cuaca buruk dan tim sudah berada di pos 1 besok baru melanjutkan ke pos 2.
Malamnya seorang dari tim pendakian mendengar suara gaungan anjing untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak dinginkan terjadi tiap 2 jam jenazah selalu dipantau. Malam hari kami terus melakukan komunikasi untuk memberikan informasi kepada pihak-pihak yang terkait, baik mengunakan ht ataupun hp. Demi kelancaran dan kesinambungan komunikasi kami sangat menghemat penggunaan hp.
(10/10) Semua kegiatan masih sama dengan hari kemarin melakukan persiapan menunggu tim evakuasi datang yang sudah sampai di pos 2 sambil menjaga komunikasi dengan tim evakuasi. Karena penantian yang lama akan datang tim evakuasi baik dari tim SAR atau polisi Kali Baru waktu kosong kami gunakan  dengan melakukan beberapa hal untuk menghilangkan kebosanan.
Malamnya pada jam 19.40 setelah makan malam kami dapat kabar bahwa tim SAR gabungan yang terdiri dari keluarga jenazah, polisi dan tim SAR OPA Jember sudah sampai di pos 3 tapi karena cuaca dan hari mulai gelap evakuasi dihentikan untuk dilanjutkan besok hari. Sistim evakuasi akan dilakukan secara estafet karena tiap pos sudah disiapkan tim-tim pendukung untuk mempercepat penurunan jenazah.
(11/11) Setelah sekian lama kami menunggu dengan persiapan turun akhirnya pada jam 08.50 tim SAR gabungan pun tiba di TKP. Polisi segera melakukan prosedur mereka, setelah itu di bantu keluarga dan seorang porter, jenazah langsung dibungkus kemudian disiapkan untuk dibawa turun. Setelah semua hal dilakukan pada jam 10.40 semua tim (SAR gabungan, keluarga, polisi, tim mayapala) turun menuju basecamp evakuasi jenazah. Untuk kelancaran evakuasi jalur pun sudah dibersihkan dan jenazah didahulukan sedangkan tim yang lain mengiringi dari belakang. Pada jam 17.00 Semua tim sampai di pos 1 sedangkan jenazah dibawa duluan dan sudah sampai di basecamp evakuasi. Kami juga dapat kabar kalau penyerahan jenazah dari tim SAR kepada keluarga sudah dilakukan. Setelah semuanya berkumpul semua tim langsung di naikkan ke mobil angkut polisi yang sudah menunggu lama dan kami langsung dibawa ke polsek Kali Baru untuk melakukan beberapa prosedur polisi dan evaluasi SAR. Sambil menunggu evaluasi SAR dengan menggunakan mobil yang disediakan Polsek, kami kembali ke basecamp (pak suto) untuk pamitan dan mengambil beberapa barang yang tertinggal. Setelah semuanya dilakukan dengan menggunakan truk angkut Polsek kami tim MAYAPALA berserta tim SAR jember lain di bawa kekampus UNJEM ( sekretari MAPALUS).
Persiapan evakuasi
Persiapan evakuasi
Tiba disana semuanya berkumpul untuk penutupan evakuasi SAR Gunung Raung, evakuasi SAR berjalan baik, semuanya selamat tanpa kendala dan komunikasi pun lancar hingga evakuasi jenazah selesai. Kami juga dapat kabar kalau kami akan di jemput oleh teman-teman dari Mayapala yang sudah dalam perjalanan dari tadi sore. Esok hari setelah tim penjemput datang dan setelah ramah tamah dengan teman-teman MAPALUS UNJEM kami pun melanjutkan perjalanan kembali kejogja kota tujuan.
Foto bersama tim SAR gabungan

SEJARAH PANJAT TEBING

Aktivitas panjat tebing sudah dikenal masyarakat sejak lama bahkan masyarakat tradisional, mereka melakukan pemanjatan guna mencari sumber kehidupan ataupun perlindungan, khususnya didaerah pantai dan kawasan karst untuk mencari sarang  burung atau sumber mata air. Tetapi mereka tidak memakai system dan prosedur yang baku seperti dalam olahraga panjat tebing sehingga faktor keamanan dan tingkat resiko yang dihadapi sangatlah tinggi.
Panjat tebing pertama kali dikenal di kawasan benua Eropa tepatnya di kawasan pegunungan Alpen sebelum perang Dunia I. Pada awal tahun 1910 dinegara Austria mulai diperkenalkan penggunaan peralatan-peralatan yang digunakan untuk menunjang dalam kegiatan panjat tebing seperti carabiner (cincin kait) dan piton (paku tebing) yang pada saat itu masih terbuat dari besi baja. Dan berawal dari situlah para pendaki dari Austria dan Jerman mulai mengembangkan peralatan dan teknik olah raga ini. Seiring waktu yang terus berjalan peralatan olah raga ini banyak mengalami inovasi, terutama pada bahan pembuatannya, uji kekuatan gaya tariknya, kepraktisan penggunaan alat serta prosedur keamanan alat yang telah distandartkan.
Di Indonesia olahraga panjat tebing sendiri telah terbentuk sejak tahun 1988 yang memiliki organisasi yang pada saat itu bernama FPGTI (Federasi Panjat Gunung Dan Panjat Tebing Indonesia) yang kemudian berganti nama dengan FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia) sampai sekarang ini.

DEFINISI PANJAT TEBING
Panjat tebing atau istilah asingnya dikenal dengan Rock Climbing merupakan salah satu dari sekian banyak olah raga alam bebas dan merupakan salah satu bagian dari mendaki gunung yang tidak bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki melainkan harus menggunakan peralatan dan teknik-teknik tertentu untuk bisa melewatinya. Pada umumnya panjat tebing dilakukan pada daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan mencapai lebih dari 45°  dan mempunyai tingkat kesulitan tertentu.
Pada dasarnya olah raga panjat tebing adalah suatu olah raga yang mengutamakan kelenturan, kekuatan / daya tahan tubuh, kecerdikan, kerja sama team serta ketrampilan dan pengalaman setiap individu untuk menyiasati tebing itu sendiri. Dalam menambah ketinggian dengan memanfaatkan cacat batuan maupun rekahan / celah yang terdapat ditebing tersebut serta pemanfaatan peralatan yang efektif dan efisien untuk mencapai puncak pemanjatan.
Pada awalnya panjat tebing merupakan olah raga yang bersifat petualangan murni dan sedikit sekali memiliki peraturan yang jelas, seiring dengan berkembangnya olah raga itu sendiri dari waktu kewaktu telah ada bentuk dan standart baku dalam aktifitas dalam panjat tebing yang diikuti oleh penggiat panjat tebing. Banyaknya tuntutan tentang perkembangan olah raga ini memberi alternatif yang lain dari unsur petualangan itu sendiri. Dengan lebih mengedepankan unsur olah raga murni (sport).

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda