Rabu, 10 Agustus 2011

Dunia Ular

Ini adalah sebagian dari anggota keluarga ular, mungkin masih ada ratusan jenis bahkan mungkin ribuan yang belum saya tampilkan gambarnya disini, dan  yang ingin saya tambahkan disini bahwa ular juga termasuk hewan yang dilindungi, apapun alasannya..”sayangi mereka, lindungi mereka, dan jangan pernah sia-siakan hidup mereka, karena mereka juga makluk- Nya !!!”
Biologi Ular.
Dalam mengidentifikasikan seekor ular atau dalam upaya mengenal seekor ular perlu diperhatikan hal-hal seperti berikut:
1. Ciri Fisik Ular
a. Sisik Ular
Sisik yang dimiliki oleh ular adalah sisik yang berkesinambungan antara yang satu dengan yang lainnya, sisik ini terbentuk atas lapisan tanduk dan pada masa-masa tertentu akan mengalami kematian, sehingga ular pada 2 bulan sekali akan mengalami pergantian kulit. Ular akan menanggalkan kulit lamanya dengan cara menggosokan moncongnya pada permukaan yang kasar. Dengan demikian, kulitnya akan menjadi longgar dan ular akan keluar dengan lapisan sisik yang baru.
Gambar 1. Sloughing (A. Ular yang berusaha berganti kulit, dan B. Kulit yang sudah terlepas dari tubuh)
Bentuk-bentuk sisik yang dimiliki seekor ular diantaranya yaitu bulat, memanjang, meruncing, dan berlunas, sisik di sini berfungsi sebagai lapisan tahan air dan sebagai penahan agar dirinya merasa tidak kering.
Gambar 2. Penampang bentuk sisik-sisik ular
b. Organ Dalam Ular
Di bawah sisik-sisik, daging, dan tulang terdapat organ-organ tubuh yang menopang kehidupan ular. Sebagian besar organ dalam seekor ular berukuran panjang dan ramping, sehingga muat di dalam tubuhnya yang memanjang. Organ-organ yang berpasangan, misalnya ginjal, ovarium, dan paru-paru terletak bersebelahan seperti pada kebanyakan hewan. Paru-paru kirinya sangat kecil dan kurang berguna paru-paru yang kanannya yang besar digunakan untuk bernafas.
c. Ukuran
Meskipun fosil ular sepanjang 15 m sudah diketemukan, namun hampir dapat dipastikan bahwa ular terpanjang pada dewasa ini panjangnya kurang dari 12 m. Ular terpanjang yang pernah diukur yaitu ular sanca kembang (Python reticulatus) dengan panjang mencapai 10 m. Sedangkan ular terkecil (Blind Snake) yang pernah dijumpai panjangnya hanya 12,5 cm.
Gambar 3. Contoh ular berdasarkan ukuran (A. Blind Snake, dan B. Ular Python)
d. Organ Pembau
Seperti hewan vertebrata lainnya, ular menggunakan bau, pandangan, dan bunyi untuk mengetahui keadaan di sekitarnya. Ular membaui melalui lubang hidung, yang dilengkapi dengan organ Jacobson, yaitu suatu cekungan di langit-langit mulut yang berfungsi “merasakan” udara sekitar. Seekor ular mengeluar-masukkan lidahnya untuk menangkap molekul bau dan memindahkannya ke organ Jacobson secara kimiawi (khemoreseptor). Organ Jacobson dilapisi sel-sel yang dapat menganalisa bau.
Gambar 4. Organ Jacobson
e. Sensor Panas
Selain mempunyai organ Jacobson beberapa jenis ular ada yang dilengkapi dengan lubang sensor panas (Pit Nose), yang letaknya berada di atas bibir. Lubang ini berfungsi sebagai pendeteksi panas tubuh, dilapisi selapis sel yang disebut thermoreseptor yang terhubung ke otak melalui saraf. Pesan yang disampaikan kepada otak adalah lokasi dan jarak mangsa berada. Ular yang biasa dilengkapi dengan Pit Nose ini biasanya tergolong dalam familia Viperidae dan sub familianya Crotalinae, dan ular dalam familia Boidae.
Gambar 5. Pit Nose
f. Cara Makan
Teknik makan pada ular merupakan teknik yang sudah mengalami modifikasi dengan sempurna, dalam hal ini teknik mereka untuk menelan mangsanya, bahkan sampai mangsa yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya. Teknik ini berkembang dikarenakan ular mempunyai ruas tulang belakang lentur yang terdiri dari sekitar 400 vertebra. Terkecuali vertebra ekor, semua vertebra tersebut mempunyai sepasang tulang rusuk. Bagian bawah tulang rusuk itu tidak menyambung sehingga dapat merenggang ketika ular menelan mangsa yang lebih besar. Selain itu sambungan rahangnya kendur sehingga mulut ular dapat terbuka lebar ketika menelan mangsanya.
Gambar 6. Cara ular menelan mangsanya {A. Hog-nose viper (Bothrops nasutus) memulai untuk menelan kodok setelah pertama kali dia menyuntikkan bisanya lebih dahulu, B. Pyton Afrika berusaha langsung menelan seekor buaya, dan C. Pygmy python (Liasis perthensis) membelitkan tubuhnya pada seekor tikus hingga mati baru berusaha menelannya}
g. Tipe Gigi
Ular juga memiliki gigi yang berfungsi untuk menangkap mangsa dan membantu ular dalam menelan. Rahang bawah tempat tumbuh gigi pada ular tidak menyatu fungsinya agar makanan yang ukurannya besar dapat masuk dengan mudah, sehingga ular dapat memasukkan makanannya hingga ukurannya 3 kali ukuran kepalanya.
Tipe gigi yang dimiliki yaitu Aglyhpa (bentuk gigi besar atau sedang dan tidak ada gigi bisa), contoh: Sanca Kembang (Python reticulatus) dan Ular Pelangi (Xenopeltis unicolor), Ophistoglypha (bentuk gigi mempunyai bisa tetapi pendek dan terletak di bagian belakang rahang atas), contoh: Ular Terawang (Elaphe radiata) dan Ular Cincin Emas (Boiga dendrophila), Proteroglypa (bentuk gigi taring letaknya di rahang atas bagian depan dengan ukuran tidak terlalu depan dan beralur), contoh: Ular Cobra (Naja-naja putatrix) dan Ular Cabe (Maticora intestinalis), dan Solenoglypa (bentuk gigi taring berukuran besar, panjang dan berbentuk kait, letaknya di bagian depan dan dapat dilipat ke belakang, dan sejajar rahang), contoh: Ular King Cobra (Ophiophagus hannah) dan Ular Bandotan Puspo (Vipera russeli).
Tipe taring yang dimiliki oleh ular digunakan juga sebagai alat untuk membela diri dan alat pembantu penangkap mangsa yang disertai oleh saluran bisa. Pembedaan tipe taring bisa pada ular dibedakan atas Proteroglypa dan Solenoglypa. Taring berwarna putih dengan selaput pembungkus taring yang berwarna putih agak tebal, guna melindungi mulut agar tidak terluka serta memudahkan ular untuk menelan mangsa. Selaput ini disebut juga (hymneglypha).
Gambar 7. Penampang tipe gigi ular (A. Aglypha; B. Ophistoglypha; C. Proteroglypha; dan D. Solenoglypha)
h. Bisa Ular
Penggolongan bisa dibagi atas dua, yaitu Neurotoxin bagi ular yang memiliki Ordo Elapidae (kerjanya menyerang jaringan saraf, terutama sistem saraf pada pusat pernafasan). Gejala yang ditimbulkan bagi korban yang terpatuk akan merasakan pening, muntah, perasaan tidak enak, pada luka patukan 1-2 jam akan membengkak, atau pada umumnya akan terjadi necrosis (kelemayuh), jika tidak mendapat pertolongan maka korban akan langsung mati setelah mengalami keracunan berat. Yang kedua yaitu Hemotoxin bagi ular yang memiliki Ordo Viperidae (kerjanya merusak jaringan darah korban, utama pada sel-sel darah dan pembuluh darah). Gejala yang ditimbulkan bagi korban yang terpatuk akan merasakan pusing, mual, dan kadang diare. Pada bekas patukan terasa panas dan sakit, pembengkakan terjadi selama 30 menit sampai 1 jam, dan jarang terjadi necrosis, kecuali jika terpatuk di jari (Budhy, 1986).
Bisa atau venom yang dimiliki oleh ular dihasilkan oleh kelenjar yang terletak di dalam kepala yang juga berfungsi sebagai alat bantu dalam sistem pencernaannya, selain sebagai alat pertahanan diri. Bisa dikeluarkan melalui saluran yang ada di dalam taring untuk disuntikkan kepada mangsanya, dalam kasus yang lain Ular Cobra dapat menyemburkan bisanya sampai ketinggian 2 meter, dan biasanya diarahkan pada mata lawannya. Hal ini disebabkan karena ujung celah saluran bisa yang dimiliki oleh Ular Cobra jauh lebih kecil dibandingkan dengan ular berbisa lainnya seperti Ular Hijau (Trimeresurus alborabris).
Gambar 8. Sutura (lubang keluar bisa, Tipe gigi Solenoglypha)
2. Faktor-Faktor Lingkungan Yang Berpengaruh Dalam Perkembangan Ular
a. Suhu Ideal Ular
Ular termasuk dalam hewan berdarah dingin (Poikilotermi), yang artinya ular tidak dapat menghasilkan panas tubuhnya sendiri, karena itu suhu tubuh ular tergantung pada suhu lingkungan sekitarnya. Salah satu upaya yang ditempuh ular untuk menghangatkan tubuhnya dengan cara berjemur sehingga ular tersebut dapat beraktivitas pada malam harinya. Dan bagi ular Python usaha yang ditempuh untuk menghasilkan panas dalam masa inkubasi telur, ular ini akan melingkari telur-telurnya sambil menggesek-gesekan tubuhnya. Suhu ideal yang dimiliki seekor ular yaitu 23,9oC sampai dengan 29,4oC. Suhu tubuh minimum ular sekitar 7,2 oC dan suhu tubuh maksimumnya sekitar 37,8 oC.
b. Pola Pewarnaan Ular
Ular tinggal di daerah yang lembab, dan semak-semak yang bersebelahan dengan air. Banyak ular menggunakan warna, dan pola tubuh untuk menyatu dengan lingkungan sekitar, hal tersebut membantu mereka untuk merayap tanpa terlihat oleh mangsa atau pemangsanya. Warna yang dimilikinya juga sebagai peringatan bagi hewan lain. Contohnya: Ular Rattle yang habitatnya di padang pasir dengan warna sisik yang menyerupai pasir, Ular Hijau akan tersamarkan dalam mencari makan jika dia berada di dahan-dahan pohon, dan Ular Koral yang memiliki corak mencolok seakan memberi isyarat bahwa dia itu berbahaya.

Gambar 9. Warna ular sesuai lingkungan (A. Horn-rattle snake yang sedang menunggu mangsa dengan membenamkan diri dalam pasir, B. Ular Mamba Hijau yang sedang marah diantara dahan-dahan).
Klo tadi itu secara biologisnya seperti apa, sekarang  adalah jenis- jenis ular ( berikut gambar) :
200807231337
anaconda
Anaconda (Eunectes Murinus).
An anaconda is a large non-venomous snake found in tropical, South Amerika. Although the name actually applies to a group of snakes, it is often used to refer only to one species in particular, the common or green anaconda, which is one of the largest snakes in the world.
The origin of the name is uncertain and various explanations exist. One is that it is an alteration of the Sinhales word henakandaya, meaning “whip snake.” Another is that it is derived from the Tamil word anaikondran, meaning “elephant killer”, or from anaikkonda, meaning “having killed an elephant.”However, and no snake name like it is currently found in the Sinhalese or Tamil languages, and it is unclear how this name originated so far from the snake’s native habitat; possibly this is due to its vague similarity to the large Asian phyton’s.
The name was first used in English to refer to a Ceylonese python, but was erroneously was applied to a large South American boa.
king_cobra2687973749_2460c6ca591
king_cobra_26709_340
King Cobra (Ophiophagus hannah).
Ular King Cobra atau dalam bahasa Latin disebut ophiophagus hannah ini merupakan ular berbisa terpanjang di dunia. Ukuran panjang tubuhnya bisa mencapai 5 meter. Selain itu ular King Cobra memiliki ukuran otak paling besar jika dibandingkan dengan jenis ular lainnya.
Ular ini memiliki jenis racun neurotoksin dan juga terdapat hemotoksin. Karena dosis racun yang disuntikkan sangat besar maka korban dari gigitan ular ini hampir semuanya menyebabkan kematian.
Ular King Cobra memiliki ketahanan terhadap jenis racun ular apapun dan dapat mematikan semua jenis ular jenis apapun. Makanannya pun sebagian besar adalah jenis ular lain, kadal, dan berbagai jenis reptil.
Habitat ular King Cobra biasanya di ladang, hutan dan perkebunan yang jarang tersentuh manusia. Ular jenis ini sangat aktif di siang hari dan termasuk jenis ular yang sangat protektif terhadap keamanan sarangnya.
355630822_9b4aa9bd812
1197838075
1259586617_7973e3644a_o
Phyton ( Condro Phyton Viridis).
Ular Piton Hijau termasuk spesies ular yang tidak berbisa yang jarang kita temui di hutan, ataupun tidur di rumah. Panjangnya berkisar 1,45-1,5 meter, berbentuk ramping dengan kepala yang agak besar dan hampir berbentuk segitiga. Ular belum dewasa ( anak ) berwarna kuning-merah kecoklat-coklatan dengan beberapa bintik coklat. Bagian perut berwarana putih kekuning-kuningan. Ular dewasa berwarna hijau. Bentuk ujung ekornya runcing yang biasanya di gunakan untuk “mengait” pada ranting pohon. Bola mata besar dengan biji mata tegak lurus ( pada ular dewasa ).
Ular ini tersebar luas di Pulau Irian (Papua), sampai ke Pulau Aru dan Queensland ( Australia ), mulai dari tepi pantai sampai pada ketinggian 2.000 meter dari permukaan laut. Makanan utamanya berupa mamalia kecil. Ular yang belum dewasa meemakan berbagai kadal dan reptilia lainnya. Belum banyak bukti bahwa ular ini memangsa burung.

rattle_snake_040206_0534
rattle-snakes1
western-diamond-back-rattle-snake-close-up
rattle snake’s.
sea_krait1
olive-sea-snake1
0534666700
Nah klo ini sea snake alias ular laut….dan itu si Irvin (alm) sedang menyelamatkan seekor ular laut yang panjangnya diperkirakan sekitar 2-3 m…wuuiihh ngeri ! padahal do’i sangat beracun sekali..gila emang si Irvin ini, salut deh atas pengorbanannya terhadap dunia satwa !!!

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar