Rabu, 22 Juni 2016

MEMAKNAI PENDIDIKAN DASAR PECINTA ALAM

DIKSAR PECINTA ALAM, sebuah kata yang tak asing didengar. Sebuah prosesi yang harus dijalani bagi calon penerus baru organisasi penggiat alam. Suatu ritual yang seakan menjadi momok menakutkan bagi mereka. Penuh tekanan, penuh persiapan, penuh finansial, sarat akan kekerasan, dan terkadang tak sedikit jatuh korban. Saya akan telaah sejenak, apakah benar demikian? Apa yang mendasari itu semua? dan, Ada apa dibalik proses pendidikan yang selama ini tetap dipertahankan?
Suatu ketika saya mendengar berita musibah pada suatu pendakian gunung, banyak diantara mereka yang menjadi korban dan meninggal. Saya mencoba mencari tahu lebih banyak berita sejenis, pada siapa dan mengapa kecelakaan ini terjadi?.
16 Santri Sempat Dikabarkan Hilang di Gunung Salak. (poskota.co.id)
5 pendaki hilang di gunung singgalang (metrotvnews.com)
siswa smk hilang di puncak gunung Kawi (antarajatim.com)

pendaki asal bekasi meninggal (solopos.com)
mayat di gunung Pangrango di evakuasi (bataviase.co.id)
7 pendaki tewas di rinjani (youtube.com)
Begitulah kejadian yang nyata didepan kita, apakah kita menutup mata jika nyawa seakan sudah tak ada harganya. Siapa yang peduli? Siapa yang bertanggung jawab? Siapa yang menelan pahit tercorengnya citra sebuah organisasi, lembaga, bahkan Negara karena tak bisa memfasilitasi rakyatnya untuk sekedar menikmati alam?
Apa kaitannya dengan pendidikan dasar pecinta alam?
Contoh kecelakaan diatas bisa terjadi pada siapa saja. Orang yang professional sekalipun punya resiko yang sama ketika ia menempatkan dirinya di alam bebas. Kita tidak bisa memungkiri adanya kehendak Tuhan, namun yang bisa kita lakukan adalah mengurangi resiko kemungkinan terjadinya kecelakaan tersebut dari sisi manusia nya sendiri (human error). Menjadi sorotan utama apa saja yang kita butuhkan, bukan hanya sekedar fisik dan ilmu. Memang keduanya begitu sangat penting, namun bukan yang terpenting apabila keduanya berdiri sendiri-sendiri. Banyak hal yang terjadi selama dilapangan, kombinasi dari beberapa elemen yang kita miliki bisa menjadi solusi yang lebih baik.
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa diksar tidak hanya mempersiapkan skill dalam berkegiatan di Alam, namun juga sebagai tonggak awal berkembangnya mental dan insting mereka. Akhirnya dari kombinasi itu mereka lebih percaya diri, lebih mampu mengukur kemampuannya, dan peka terhadap sekelilingnya. Selalu mempertimbangkan akal sehat dan bukan sekedar menuruti hawa nafsu. Bisa saya katakan bahwa, lebih banyak kecelakaan terjadi (tersesat, hilang, dsb) bukan karena lemah fisiknya, namun karena kurang rasa percaya diri, dan hilangnya fungsi seorang pemimpin. Kondisi demikian berlanjut pada kacaunya komunikasi antar anggota, ketidak percayaan pada pemimpin, rasa takut yang hebat, hingga hilangnya semangat untuk mempertahankan hidup. Disini diksar memiliki peranan yang amat penting sebelum seseorang melangkahkan kakinya di Alam bebas.
Apakah diksar adalah pilihan satunya-satunya? Bagaimana dengan seseorang yang memiliki pengalaman dan jam terbang yang tinggi haruskah juga melewati prosesi ini?
Saya sangat setuju bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, pengalaman dapat lebih menunjukkan identitas dan karakter kita. Apalagi seseorang yang memiliki jam terbang yang tinggi, secara tidak langsung ia telah mendorong dirinya untuk cepat berkembang. Tidak heran bahwa nantinya akan tumbuh daya juang yang tinggi dan respon tubuh yang baik saat kondisi yang tidak diinginkan. Diksar adalah lompatan awal yang akan di follow-up lagi dengan banyaknya jam terbang. Namun tidak mutlak harus dilalui jika ia mampu melompatinya dengan baik dan sama berat porsinya.
Banyak teman saya yang tidak memiliki background PA atau belum pernah melalui prosesi diksar, namun bisa lebih mengkondisikan dirinya dalam berbagai situasi, menghasilkan solusi yang brilliant, dan bisa diandalkan. Dan banyak juga teman saya yang memiliki background PA hanya sebatas kebanggaan akan lencana yang ia pakai, namun tidak bisa menolong dirinya dan bahkan menjadi benalu bagi yang lain. Diksar adalah pintu pertama dalam sebuah kurikulum namun outputnya tergantung dari isi dan orangnya masing-masing. Namun jika kita tidak tahu apa-apa, mengikuti seluruh kurikulum dengan baik adalah jalan yang lebih aman.
Berikut saya coba uraikan beberapa point yang ada dalam diksar pecinta alam:

  1. Pembentukan mental dan karakter yang kokoh
  2. Pembentukan sikap rendah diri dan peduli lingkungan
  3. Pembentukan kapasitas ilmu dalam berkegiatan di alam
  4. Pembentukan kesadaran akan rasa kesamaan, kebersamaan, dan kekeluargaan
  5. Membentuk pribadi yang bijak dan beradab
Beberapa penggalan cerita dibawah ini sekiranya bisa menjabarkan point-point di atas. Sebuah pengalaman pribadi yang saya alami ketika Pendidikan di beberapa organisasi PA..
OTAK YANG ADA DIANTARA PERUT DAN LUTUT
Sebuah keyakinan bagi kita semua, bahwa seluruh manusia dilahirkan dalam keadaan bodoh, lemah fisik dan juga akalnya. Semua kemajuan yang ada pada dirinya berkembang setelah ia mau belajar, merasakan dan memahami apa yang dibutuhkannya. Namun, terkadang kita tak menyadari, ada sesuatu yang teramat penting yang sering kita lupakan seiring meningginya daya pikir manusia, yaitu ‘hati nurani’.
Sedikit pelajaran berharga yang pernah saya dapatkan ketika diksar. Satu keadaan dimana fisik seolah dikembalikan ketitik Nol, tanpa keangkuhan yang biasa merangkul kita berdiri, dan mulut hanya mampu berbicara berdasarkan akal dan perasaan saja. Ada satu pertanyaan panjang yang terlontar ketika itu dan berakhir, “….Apa kamu pintar!!?”, sebuah pertanyaan yang teramat sederhana namun teramat sulit untuk kujawab. Tak terhitung berapa kali otak ini berpikir hingga beban dipunggung serasa pindah dikepala. Dua opsi yang ada, berkata Ya dengan nada terendah atau Tidak! dengan suara lantang dan menerima akibatnya. Tampak jelas terasa ketika tidak ada sesuatupun yang dapat membantu kita, itulah diri kita sebenarnya. Diri kita yang tak berdaya dan hilang semangat ketika tak ada yang menyanjung kita, tak ada teman yang biasa kita susahkan tanpa kita sadari, tidak percaya diri, selalu bimbang jika kita merasa tak membutuhkan orang lain.
Pertanyaan lain yang terlontar, “Ada dimana otakmu!!??”, ini bukan pertanyaan ilmiah, dan sekarang saya baru sadar ini juga bukan jebakan. Sebuah analogi yang merepresentasikan akal saat itu, bahkan membuat seseorang dibawah titik Nol dan akan semakin memperjelas kapasitas orang tersebut. Kunci dari semua itu adalah hati nurani, dimana hatimu berada ia harus terletak diatas akalmu, agar kita tidak besar kepala, sombong dengan apa yang kita bisa. Dan akal tidak sampai dibawah lutut karena ia adalah pangkal kebodohan, tidak ada artinya kebaikanmu dituntun oleh kebodohan. Akalmu harus terletak diantara lutut dan hati/ perut!.
LAYAKNYA TEMBIKAR IA TAKKAN HABIS DIBAKAR
Ada satu cerita yang pernah saya baca di sebuah buletin Pasma54. Sebuah metafora menggambarkan bahwa Diksar, Dikjut , pengembaraan, tak lain adalah sebuah proses yang penting bahkan wajib ada dalam program pendidikan sebuah organisasi penggiat alam. Cerita yang mengubah pandangan saya yang selama ini bisikan-bisikan tetangga telah melembekkan diri saya. Mungkin tidak lazim untuk mereka, karena mereka tidak membutuhkannya. Berbicara hanya pada satu sudut pandang saja, tanpa tahu apa yang terjadi pada para penggiat yang membutuhkannya.
Balada Api dan Tanah Liat!!
Disuatu malam ada sebuah desa yang terkena musibah kebakaran, tak berapa lama semuanya terlahap api yang besar. Sangat tiba-tiba, sehingga penduduk pun tak sempat menyelamatkan barang-barang berharganya, hanya nyawa yang bisa ia bawa. Hari menjelang pagi dan api pun mulai padam. Banyak yang kembali untuk sekedar melihat apa yang bisa mereka bawa dari sisa puing-puing rumah mereka. Semuanya tampak abu, televisi, radio, pakaian, sepeda, semuanya tak luput oleh api. Ada beberapa perabotan yang selamat, aneh beberapa bahkan ada yang masih mengkilap dan utuh: Periuk dari tanah liat yang dibakar, guci, gelas dan piring beling, vas bunga, asbak, celengan dan benda-benda yang terbuat dari keramik. (reoN:2005)
Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari sana? Jika kita diibaratkan seperti tembikar atau puing-puing yang selamat, tentu kita akan mengalami proses yang sama dengannya untuk bertahan dari musibah yang datang. Periuk dari tanah liat, harganya murah, namun proses pembuatannya yang ditempa dan dibakar menjadikan ia kuat dilahap api. Seorang tentara yang setiap harinya ditekan dan digembleng, tak lain agar ia siap menghadapi ujian yang sesungguhnya. Dimana ia bergantung pada potensi maksimalnya yang ia dapatkan pada saat latihan. Begitupun seorang PA (Pecinta Alam), ketika mendaki gunung, memanjat tebing, arung jeram, telusur goa, dan lainnya adalah kegiatan yang riskan dan penuh resiko. Kita tak tahu bahaya apa yang mungkin bisa saja terjadi secara tiba-tiba. Tidak hanya fisik dan keterampilan yang harus ia miliki namun juga mental yang bisa ia bakar.
KETIKA AIR MATA MENETES DIKULIT YANG PENUH DENGAN SAYATAN
“Telah hilang semangat hidup, apabila kita berpikir untuk mati. Akan datang kekuatan baru apabila kita berpikir untuk hidup dan berharap lebih jauh lagi”. Mungkin kekuatan sugesti itulah yang masih menggerakkan tubuhku hingga klimaksnya. Golok yang tak hentinya mengayun dan menghabiskan sendi-sendi tangan ini bergetar dan beberapa kali lepas dari genggaman. Kaki-kaki yang tak lagi kurasakan pijakannya bagaikan sabatang kayu keropos yang ditindih beban yang tak masuk akal beratnya. Lelah, lelah sampai beberapa kali berhalusinasi, itulah istirahatku yang cuma semu ditengah pijakan panjang yang terjal.
Hangatnya sinar matahari, berharap untuk bisa menembus kulitku. Walaupun keringat akan mengucur deras, nampaknya lebih baik daripada terlalu lama menggigil dibalut pakaian basah. Jalan setapak dengan lumpur yang bergejolak menyiprati wajah dan memendam sepatu boot ku, tak sebanding untuk tubuh yang hampir tumbang ini. Hari masih siang namun diufuk telah redup cahayanya,mengisyaratkan dinginnya malam nanti menjadi cobaan yang berat untuk dilewati. Malam dimana luapan kecapaian bercampur aduk dengan harunya peristiwa memilukan.
Perasaan sedih dan cemas melihat rekan yang terserang hipotermia hingga sebatang sendok pun bengkok menahan rahangnya. Mereka yang sempat memuntahkan makanannya tak kecewa walau tadi harus merangkak karena tak ada asupan tenaga. Beberapa orang susah payah mengikat bivak walau jarinya telah kaku kedinginan. Sebuah pemandangan yang teramat pilu dan menggetarkan hati, namun kelelahan dan kepayahan telah dicerna dengan baik, sehingga hanya ada satu kata, “Kebersamaan” apapun yang terjadi.
Ketika air mata menetes di kulit yang penuh dengan sayatan, menjadi arti mahalnya sebuah pengorbanan. Pengorbanan untuk membentuk satu keluarga diatas prinsip kebersamaaan. Bertahan dari berbagai ujian yang datang, semuanya saling menyemangati, saling interospeksi demi tujuan bersama. Hal seperti itulah yang dapat membuka mata bagi orang yang paling egois sekalipun. Sesuatu yang menjadikan tubuh ini seakan hidup kembali, hidup bukan untuk dirinya sendiri tapi juga orang lain. Sebuah pelajaran yang berharga untuk diresapi dan akan diingat sepanjang hayat.
NILAI YANG TAK TERNILAI HARGANYA
Kesamaan dan kebersamaan adalah pondasi yang bisa mewujudkan tali persaudaraan. Tapi apakah pangkal dari kesamaan? Takdir? mungkin pengorbanan lah yang lebih tepat, karena begitu banyak karakter manusia yang takkan bisa disatukan tanpa ada sebab musababnya. Logika akan sejalan dan mengalir dengan waktu dan perubahan zaman, namun perasaan akan membimbing ketika ia melihat kepercayaan, dan kadarnya sebanding dengan apa yang ia saksikan, pembuktian yang nyata sehingga ia tak menempatkan logika diatas segala-galanya.
Edelweiss yang tumbuh di puncak, mengakar keras dalam kebersamaan. Kesetiaannya akan terus abadi walau badai menerjang dan sengatan matahari memudarkan warnanya. Ia dibesarkan oleh perjuangan, tumbuh karena keyakinan dan kesetiaan, dan cobaan lah yang akan membuktikannya. Tidak sedikit bibit-bibit lain yang iri padanya, bahkan yang besar ingin sekali merampasnya. Bibit-bibit kecil ternyata tak lebih berat perjuangannya, dan yang besar terlalu sombong tak membutuhkan yang lain. Sepertinya edelweis tak perlu bersusah payah untuk menjaga keutuhannya dari yang lain.
Perjuangan dan pengorbanan yang sesungguhnya memiliki makna yang mendalam. Ia akan selalu terpatri dalam hati, mengiringi dalam setiap langkah, dan menjadi batu loncatan dalam memperbaiki diri. Sesuatu yang menjadikan seseorang bijak, tidak tampak namun begitu mahal harganya. Amat mahal sehingga Ia takkan rela sesuatu itu direnggut oleh orang lain.
PEKERJAAN RUMAH YANG BERAT
Ada seorang siswa yang menjadi peserta terbaik dalam sebuah pelatihan dasar kepemimpinan yang diadakan sekolahnya. Tapi dia sama sekali tidak terpilih menjadi ketua atau kandidat ketua atau bahkan menjadi anggota OSIS atau MPK sekalipun. Ternyata ada perbedaan penilaian antara penyelenggara pelatihan dengan panitia penyeleksi OSIS-MPK, itu mungkin kalau kita berpikir terlalu positif. Namun itu tidak logis karena menurutnya seperti apa yang digembar-gemborkan bahwa syarat menjadi anggota OSIS-MPK harus melalui tahap pelatihan dasar kepemimpinan, otomatis penilaian mutlak dilihat dari hasil proses tersebut. Bukan dari penilaian pendapat oleh sebagian panitia atau orang yang berkepentingan didalamnya. Satu alasan yang mungkin, adalah karena peserta terbaik itu adalah anggota organisasi Sispala. Diperkuat lagi dengan kenyataan bahwa tak satupun anggota Sispala yang aktif lolos menjadi anggota OSIS-MPK. Satu bukti bahwa kepercayaan guru atau orang-orang yang memegang jabatan tinggi disekolah itu sangat jauh.
Ada lagi seorang mahasiswa yang ingin sekali menjadi seorang penggiat alam. Sudah lama waktu yang ia korbankan dan uang yang ia investasikan untuk bisa menjadi seorang Mapala. Hingga suatu ketika ada proses yang dimana harus ia jalani dan tiba-tiba saja memutuskan untuk hang-out dari acara tersebut bahkan dari organisasi Mapala nya karena desakan Orang Tua. Banyak rumor yang beredar dari mulut ke mulut, bahkan orang yang tidak mengerti membuat celotehan-celotehan sendiri, “Mapala, makan gak makan asal nongkrong” “Mapala, mahasiswa paling lama”, “Mapala, mahasiswa tak punya tata krama”, “Mapala, aliran keras diwadah UKM”dan lain-lain. Menjadikan image tersebut menakutkan bagi orang tua, atau mereka yang ingin masuk Mapala. Memang, menurut sebagian teman itu sebagai salah satu seleksi alamiah bagi seorang anak mami, atau orang yang hanya bergantung pada Ortu. Tapi anggapan-anggapan miring punya akibat lebih fatal untuk keberlangsungan organisasi Mapala tersebut. Mulai dari dipersulitnya pengesahan proposal sampai pada krisisnya regenerasi keanggotaan organisasi Mapala.
Itu hanya sebagian fakta dari banyaknya bentuk diskriminasi yang pernah saya lihat, hingga akhirnya saya tergerak untuk menulisnya dan berharap agar kita semua mau bercermin dan mengoreksi diri masing-masing. Pendidikan Mapala bukan hanya sekedar program kerja, tapi lebih kepada tanggung-jawab dan kepedulian terhadap generasi selanjutnya. Agar nantinya Ia lebih punya kapasitas, tidak dipandang sebelah mata, dan menjadi kebanggaan organisasi, kampus atau sekolahnya.

SUMBER : saudara yang di sebelah :D

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar